Tentang iklan-iklan ini

Download File Presentasi “Tak Ada Subsidi BBM!” Gratis

Maaf sehubungan dengan adanya kontroversi yang dikhawatirkan justru malah membawa mudharat, file presentasi “Tidak Ada Subsidi BBM!” saya hapus dari blog ini. Anggap saja tidak ada. Di bawah ada juga komentar-komentar dari rekan-rekan baik yang pro mau pun yang kontra. Silahkan dipelajari.

Tapi sebagai gantinya saya telah mencari data yang lebih komplit dan komprehensif di:

http://infoindonesia.wordpress.com/2008/05/26/revisi-file-presentasi-%e2%80%9ctak-ada-subsidi-bbm%e2%80%9d-dan-penjajahan-kompeni

Saya sendiri berharap kita punya informasi yang lengkap dan akurat tentang rincian biaya BBM di Indonesia sehingga didapat informasi yang akurat dan transparan. Bagi rekan2 yang punya silahkan beri informasi di komentar. Meski ini cuma Blog, saya harap semua informasi/data berasal dari sumber/link yang jelas sehingga bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Lihat betapa jelasnya Pemerintah AS memberi informasi BBM bagi rakyat mereka:

===

http://www.energy.ca.gov/gasoline/margins/index.html

WWW.ENERGY.CA.GOV / GASOLINE / MARGINS

Estimated 2008 Gasoline Price Breakdown & Margins Details

==

Saya harap perdebatan tentang ini dihentikan dan silahkan diskusi/informasi imbangannya diforward ke milis2 yang anda ikuti.

Kita doakan saja semoga bangsa kita selamat menghadapi ujian ini.

Salam

Berikut adalah file presentasi “Tidak Ada Subsidi BBM!” yang berisi berbagai informasi keliru tentang BBM.

Sebagai contoh orang mengira Pemerintah menanggung rugi hingga Rp 123 trilyun per tahun jika harga BBM tidak naik. Padahal kenyataannya pemerintah dengan harga minyak Internasional mencapai US$ 125/barrel tetap untung Rp 165 trilyun per tahun jika manajemennya benar karena impor sebenarnya kurang dari 20% kebutuhan minyak kita. Sisanya bisa ditutupi dengan produksi dalam negeri.

Kemudian Pemerintah selalu menganggap rakyat Indonesia boros BBM. Berbagai iklan di televisi selalu menyuruh rakyat hemat. Kenyatannya pemakaian BBM di Indonesia menempati urutan 116 di bawah negara Afrika seperti Namibia dan Botswana.

Pemerintah sering mengatakan bahwa bensin kita paling murah. Kenyataannya di Venezuela bensin hanya Rp 460/liter dan harga Pertamax kita yang Rp 8.700/liter lebih mahal daripada harga bensin di AS (importir minyak terbesar) yang hanya Rp 8.464/liter. Padahal penghasilan rakyat AS sekitar US$ 37 ribu per tahun sementara Indonesia cuma US$ 810/tahun.

Bagi yang ingin download filenya silahkan klik:

Dihapus anggap tak ada

Untuk Tabel Simulasi Harga Minyak, anda bisa download di:

Dihapus anggap tak ada

Di situ anda akan paham bahwa seandainya harga minyak Internasional naik sampai US$ 200/barrel pun Indonesia tetap untung karena impor kurang dari 20% konsumsi BBM kita sementara untuk BBM produksi dalam negeri Indonesia untung lebih dari US$ 62/barrel.

Semoga file tersebut bermanfaat bagi bangsa Indonesia

Referensi:

Produksi minyak Indonesia 1,1 juta bph (2006) dan konsumsi 1,2 juta bph (2006) (dari Situs Pemerintah AS)

http://www.eia.doe.gov/emeu/cabs/Indonesia/Oil.html

Energy Information Administration (Statistik Energi Resmi dari Pemerintah AS)

According to Oil & Gas Journal (OGJ), Indonesia had 4.3 billion barrels of proven oil reserves as of January 2007

During 2006, Indonesian oil production averaged 1.1 million barrels per day (bbl/d), of which 81 percent, or 894,000 bbl/d, was crude oil. Indonesia’s total oil production has dropped by 32 percent since 1996, as many of the country’s largest oil fields continue to decline in output. Indonesia’s current OPEC crude oil output quota is set at 1.45 million bbl/d, well above the country’s production capacity. During 2006, Indonesia’s oil consumption reached 1.2 million bbl/d, making it a slight net importer of oil for the year.

http://www.mail-archive.com/ekonomi-nasional@yahoogroups.com/msg06637.html

BP Migas: Biaya Produksi Minyak US$ 1/barrel

Kompas, Rabu, 24 Januari 2007

Cost Recovery Digelembungkan

Didi mengatakan praktek penggelembungan cost recovery tersebut menjadi salah satu penyebab tingginya biaya produksi minyak di Indonesia. “Biaya produksi minyak Indonesia per barrel mencapai 9 dollar AS per barrel. Bandingkan dengan di Malaysia yang hanya sekitar 3,7 dollar AS per barrel, atau di North Sea yang paling sulit pun juga hanya sekitar 3 dollar AS per barrel,” papar Didi.

Padahal, apabila biaya produksi minyak bisa diturunkan 1 dollar AS per barrel, sektor migas bisa menghemat 2,5 miliar dollar AS per tahun. Diakui Didi, pihaknya hanya bisa menyampaikan temuan ke BP Migas. Meskipun begitu, ia menjanjikan akan merekomendasikan proses ke pengadilan jika terbukti ada penggelembungan. Sementara Kepala BP Migas Kardaya Warnika menilai perbandingan cost recovery yang dilakukan BPKP tidak sebanding. “Kalau mau membandingkan, harus apple to apple, produksi dengan produksi,” kata Kardaya.

Menurutnya, biaya produksi minyak di Indonesia justru lebih murah. Biaya produksi di lapangan Chevron Pacific Indonesia hanya sekitar 1 dollar AS per barrel. (DOT)

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0603/24/ekonomi/2536799.htm

Kompas, Jumat, 24 Maret 2006

Biaya Meningkat, Produksi Minyak Turun

Demikian hasil pengkajian peneliti LP3ES Pri Agung Rakhmanto yang dipaparkan di Jakarta, Kamis (23/3). Pada tahun 2002 cost recovery yang ditanggung pemerintah sebesar 3,418 miliar dollar AS, tahun 2003 naik menjadi 5,305 miliar dollar AS, dan tahun 2004 menjadi 5,558 miliar dollar AS. Adapun produksi minyak nasional tahun 2002 sebesar 1,252 juta barrel per hari, tahun 2003 turun menjadi 1,147 juta barrel per hari, dan tahun 2004 semakin turun dan tinggal 1,094 juta barrel per hari.

Download Tabel Statistik negara-negara OPEC (ekspor, impor, dan konsumsi). Tahun 2006 konsumsi minyak Indonesia 1,060 juta bph.

http://www.opec.org/library/Annual%20Statistical%20Bulletin/ASB2006.htm

Statistik Departemen ESDM Konsumsi Minyak hanya 880.282 bph

http://www.esdm.go.id/minyak-bumi/produksi-konsumsi-ekspor-impor.html

Brl/tahun
Tahun Produksi Konsumsi Ekspor Impor
2007 347,493,172 321,302,814 127,134,792 110,448,506
2006 359,289,337 349,845,435 114,147,764 113,545,934
Brl/hari
Tahun Produksi Konsumsi Ekspor Impor
2007 952,036 880,282 348,314 302,599
2006 984,354 958,481 312,734 311,085
Tentang iklan-iklan ini

78 Tanggapan

  1. Pendapatan per kapita Indonesia 2007 bisa diliat di :

    http://quantan.wordpress.com/2008/02/15/pendapatan-per-kapita-indonesia-2007/

    Sumber BPS.

  2. Harap diingat Indonesia tidak merata. Bakrie dan Sukanto Tanoto punya harta Rp 54 trilyun dan 44 trilyun. Sementara keluarga Basse pendapatannya hanya Rp 5.000-10.000 / hari.

    Bayangkan kalau pendapatan per kapita Indonesia 17,9 juta/tahun, berarti 1 keluarga dengan 2 anak pendapatannya 71,6 juta atau rp 6 juta/bulan.

    Padahal 85% keluarga Indonesia (4 orang) paling2 pendapatannya hanya rp 1 juta / bulan atau US$ 326/orang

    Besarnya angka itu kemungkinan karena kenaikan harga minyak dan minyak goreng yang bertubi2 dan menguntungkan segelintir pengusaha minyak sementara justru menyengsarakan mayoritas rakyat Indonesia.

  3. Itulah statistik. Belum pernah kan simpangan bakunya dipublikasikan?

  4. Maaf, data dari BPS berdasarkan PDB.

  5. Pak Nizami menurut saya cost untuk yang dikeluarkan bisa lebih daripada itu.
    Saya pikir unsur cost recovery perlu dimasukkan dalam perhitungan pada simulasi harga BBM.
    Cost recovery ini yang sangat memberatkan… untuk itu perlu diusulkan untuk revisi kontrak-kontrak kerja sama Migas antara BP Migas (Pemerintah) dengan Kontraktor. Padahal kalau kita amati banyak kontrak yang tidak sejalan dengan UU Migas. Bagaimana ini?

  6. apa berita sperti ini di perhatikan oleh pemerintah?
    kalau di posting di sini..apakah ada yang akan peduli?

    bagaimana solusinya agar ada yang mau memimpin bangsa ini secara cerdas dan adil?
    pemerintah yang gak menjual rakyat dan negaranya untuk kepentingan kocek sndiri? ada di mana?
    siapa mau maju?
    siapa mau berkorban?

  7. tadi malam di today’s dialogue. pak kwik langsung buka-bukaan ke pak yusuf kalla.

    tapi sepertinya “tangan” yang bermain terlalu kuat. pihak pemerintah juga sudah punya “kebijakan” sendiri dan keukeuh dengan itu.

  8. produksi indonesia 1 juta itu dari mana ?, kalaupun dapat segitu itukan masih kotor, biaya produksi belum masuk belum yang diinjeksi kembali kesumur2, paling juga bersihnya 0.4 juta barel .
    kalau menurut saya sih boroknya indonesia itu subsidi. liat tuh dijalan anak muda yang balap2an liar bolak2 dijalan itukan pake uang rakyat. mendingan uang subsidi yang segitu banyaknya di pakai untuk membangun fasilitas yang bisa memajukan dan mepercepat ekonomi, transfortasi massal yang bagus dan nyaman etc (asal tidak dikorupsi.
    misalnya aja klau transportasi massal sudah bisa kayak dinegara2 maju, pemakaian kendaraan pribadi kan akan berkurang dengan sendirinya.
    contohnya yang lain di kampung saya didaerah, karena jalan yang lobang kayak sumur, perjalanan yang seharusnya 2 -3 jam menjadi 6-10 jam. akibatnya harga2 melambung sampai 2 x lipat, dan premium disana(tahun 2007) sudah RP 10000 hanya karena masalah transportasi.
    jadi kesimpulannya kalau saya (pendapat org beda2) asalkan uang tersebut benar2 dipakai untuk pembangunan, BBM naik is OK. kalau berpikirnya jangka pendek sih kelihatannya kita akan susah, tapi akan terbiasa. dan ingat sumber minyak semakin langka dan akan semakin mahal. jadi kalau bepikir jangka panjang, mengurangi subsidi adalah jalan terbaik.

  9. Dengan asumsi kebutuhan minyak 1,2 juta bph, produksi 1 juta bph, dan impor 0,2 juta bph dan biaya produksi BBM US$ 15/barrel dan jual Rp 4.500/liter (US$ 78 ) memang pemerintah untung Rp 165 trilyun. Kalau rugi, berarti itu adalah salah urus yang harus diperbaiki.

    Biaya pengolahan BBM sebesar US$ 15/barel yang saya pakai sudah cukup tinggi mengingat Kwik Kian Gie menghitung hanya US$ 10/barrel sementara Ihsanuddin Noorsy US$ 2-12/barrel.

    Jadi kalau Indonesia harus mendapat 70:30 setelah dipotong “Cost Recovery” yang besarnya mencapai lebih dari US$ 5,5 milyar (Rp 50 trilyun) berarti kebijakan keliru tersebut harus dikoreksi.

    Negara Barat sudah mengolah minyak dari tahun 1800-an, di Indonesia banyak ahli minyak dari ITB, Trisakti hingga level Doktor, serta mayoritas karyawan di perusahaan asing juga orang Indonesia. Indonesia sudah mengelola PLTN (Nuklir) sendiri, pabrik pesawat sendiri. Harusnya untuk minyak dan gas juga begitu. Kita cukup beli, begitu sudah terpasang dan jalan, operasikan sendiri. Tidak perlu mereka menikmati hasil migas kita terus menerus.

    Jadi sudah saatnya penjajahan ekonomi oleh Neo Kompeni macam Chevron, Exxon, dsb dihentikan.

    Pada harga Premium Rp 4.500/liter saja Indonesia dengan bagi hasil 70:30 harus merelakan Rp 78 trilyun lebih untuk perusahaan2 asing. Ditambah dengan “Cost Recovery” akhirnya Rp 128 trilyun lebih jatuh ke tangan asing. Mendingan uang itu untuk rakyat Indonesia yang miskin.

    http://www.mail-archive.com/ekonomi-nasional@yahoogroups.com/msg06637.html

    Kompas, Rabu, 24 Januari 2007
    Cost Recovery Digelembungkan
    Didi mengatakan praktek penggelembungan cost recovery tersebut menjadi salah
    satu penyebab tingginya biaya produksi minyak di Indonesia. “Biaya produksi
    minyak Indonesia per barrel mencapai 9 dollar AS per barrel. Bandingkan
    dengan di Malaysia yang hanya sekitar 3,7 dollar AS per barrel, atau di North Sea yang paling sulit pun juga hanya sekitar 3 dollar AS per barrel,”
    papar Didi.

    Padahal, apabila biaya produksi minyak bisa diturunkan 1 dollar AS per
    barrel, sektor migas bisa menghemat 2,5 miliar dollar AS per tahun. Diakui
    Didi, pihaknya hanya bisa menyampaikan temuan ke BP Migas. Meskipun begitu,
    ia menjanjikan akan merekomendasikan proses ke pengadilan jika terbukti ada
    penggelembungan.
    Sementara Kepala BP Migas Kardaya Warnika menilai perbandingan cost recovery
    yang dilakukan BPKP tidak sebanding. “Kalau mau membandingkan, harus apple
    to apple, produksi dengan produksi,” kata Kardaya.

    Menurutnya, biaya produksi minyak di Indonesia justru lebih murah. Biaya
    produksi di lapangan Chevron Pacific Indonesia hanya sekitar 1 dollar AS per
    barrel. (DOT)

    http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0603/24/ekonomi/2536799.htm

    Demikian hasil pengkajian peneliti LP3ES Pri Agung Rakhmanto yang dipaparkan di Jakarta, Kamis (23/3). Pada tahun 2002 cost recovery yang ditanggung pemerintah sebesar 3,418 miliar dollar AS, tahun 2003 naik menjadi 5,305 miliar dollar AS, dan tahun 2004 menjadi 5,558 miliar dollar AS. Adapun produksi minyak nasional tahun 2002 sebesar 1,252 juta barrel per hari, tahun 2003 turun menjadi 1,147 juta barrel per hari, dan tahun 2004 semakin turun dan tinggal 1,094 juta barrel per hari.

  10. tanya ken napa ??

    negara yg kaya minyak, kok krisis minyak..?
    rakyat lagi yg kena dampak….

  11. mohon izin menyebarluaskan informasi ini,
    untuk di blog saya pribadi, dan juga sebagai bagian dari diskusi mengenai kenaikan BBM di tempat kami (ahlikeuangan-indonesia@yahoogroups.com)

    materi ini sangat layak disebarkan dan didiskusikan lebih lanjut

    terima kasih sebelumnya

  12. Silahkan.
    Materi ini bebas untuk didownload, dianalisa, dikritisi, atau dikoreksi demi kepentingan bangsa.

    Salam

  13. wach,,, kalau itu faktanya… berarti pemerintahan kita bo’ong dunk……

  14. TRimakasih :)

    salam kenal… silahkan mampir ke blog saya

    http://hmc.web.id (belajar inggris lewat nasyid)

  15. Assalamu’alaikum.
    Kalau begitu menurut antum kemanakah larinya keuntungan minyak kita akhi? Blog antum sangat mencerdaskan bangsa. Terima kasih.

  16. Mas, katanya temenku di Pertamini, produksi cuman 900.000an barrel thok.. itu aja kalo kilangnya enggak lagi pada maintenance.

  17. [...] akan semakin menyengsarakan rakyat Indonesia. Blogosphere diwarnai pro dan kontra. Bahkan beragam analisa dari seorang ahli geologi sampai hanya sekedar curhat. Ada juga yang benar-benar menyodorkan [...]

  18. Ya, kerjasama asing untuk pertambangan rasanya banyak merugikan negara kita deh, baik minyak maupun emas. Kalau dulu kerjasama dilakukan dengan harapan terjadi alih teknologi sehingga nantinya kita bisa mengolah sda kita. Tapi sekarang kerjasama di lakukan karena segelintir pembuat keputusan cukup puas mendapat “uang receh” dikantong mereka daripada negara nya bisa membangun.
    Saya pikir subsidi BBM dilakukan terlalu lama tidak di imbangi dengan fasilitas angkutan publik yang memadai. Jika fasilitas tsb memadai (tersedia, aman dan nyaman, murah) bisa mengurangi konsumsi bbm untuk kendaraan pribadi, kelebihan produksi bisa di expor, atau apalah… Masa sich kalah sama negeri tetangga.

  19. Terimakasih, atas blog yang sangat menarik dan memberikan penyadaran kepada anak bangsa, saya jadi tersadarkan betapa alam kita kaya raya tapi di manajemen dengan tidak cerdas, jika ada yang bersuara maka akan selalu saja ada usaha untuk membungkam, sementara itu kita di Indonesia selalu di sibukkan oleh isu-isu yang mengarah kepada devide at impera, entah agama, suku, dan golongan (partai), saya jadi Ngeh! jangan-jangan isu-isu tersebut sengaja untuk membodohi kita agar fakta-fakta seperti yang diungkap dalam blog ini tenggelam dan tidak diangkat ke permukaan.
    maka saya sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan Bapak Nizam dalam blognya ini.
    Memang kita tidak hanya cukup berdoa untuk memperbaiki keadaan ini, kita harus bergerak, dengan cara yang cerdas pula seperti apa yang dilakukan di blog ini.
    Semoga terus memberi gerakan penyadaran…

  20. di tempatku ada pertambangan minyak, nama PTnya PERTAMINA, tetapi hasil produksinya PERTAMINI

  21. bisa difahami bila amien rais bilang kalau harga bbm jadi naik maka bubarkan saja pemerintah. sebab, ada faktor salah urus (miss management) yang terjadi.
    tak perlu pesimis dengan upaya-upaya ‘perlawanan’ yang dilakukan lewat blog atau internet seperti ini. sebab, tugas kaum ibntelektual yang paling tinggi adalah mengubah keadaan namun tugas yang paling dhoif (lemah) adalah menggelisahkan orang lain. orang yang tak pernah gelisah dengan keadaan yang terjadi di sekelilingnya tentu saja terbilang a-sosial.

    salam buat semua

  22. By the way, darimana itung2an Kwik seperti itu ? Biaya produksi BBM 15 dollar per barreel ? kenapa dia bandingkan dengan harga crude oil ? No it’s a mistake !!! From crude oil you can distilate to different products. Not only gasoline. And you know what, it depends on the API grade. For me, this is something to be clarified !! Raising the gasoline price is good, for sure. And it will “increase” APBN value.

  23. Harga minyak di Venezuela Rp 460/l. Bagaimana kalo kita beli minyak aja dari sana, ditimbun, jual disini. Jangan nimbun dari SPBU!

  24. Bang Agus..mau nanya nih..
    Tabel konsumsi BBM yang menempatkan Indonesia di nomer 116 pakai besaran apa yah? hanya tertera 1,7 saja apakah artinya 1,7 liter/hari?..
    saya agak bingung bagaimana bisa singapura yang luasnya hanya sepersekian dari Indonesia bisa lebih boros BBM dari kita?
    setau saya singapura membatasi peredaran kendaraan bermotor dengan mengenakan pajak sangat tinggi..makanya heran kok bisa paling boros BBM?bandingin ama orang kita yang dikit2 beli mobil atau motor baru..

    atau besaran itu dibagi jumlah penduduk?
    apabila dibagi jumlah penduduk masih wajar kalau pemerintah teriak2 minta kita berhemat..kali aja sama 250 juta penduduk..berapa konsumsi BBM kita setaun?pasti lebih besar dari singapura kan?
    Nah berarti wajar juga kalau kita emang kudu berhemat karena dari konsumsi BBM indonesia saya yakin setengahnya dipake oleh kita2 orang kota ini..
    inget BBM bukan hanya bensin saja tapi juga minyak tanah dan listrik (karena masih banyak yang pake BBM juga kan pembangkit listrik kita?)..

    Makasih yah atas pencerahan anda..

  25. hendaknya file ini disampaikan ke DPR agar bisa ditindak lanjuti

  26. Ikutan was2 BMBM lagi kosong di beberapa tempat….

    @atasku …
    :lol: ada ya PERTAMINI?? Jadi kepanjangannya apaan tuh?

  27. Artikel Yang Bermanfaat … Numpang COPAS ya Pak … :D

  28. Uang bulanan tetep, eh pengeluaran tambah naek… :(

  29. 1,7 barrel per orang per tahun.
    Penduduk Indonesia sekitar 220 juta. Penduduk AS 296 juta toh konsumsi mereka 15 x lebih banyak dari Indonesia. Jepang penduduknya 128 juta konsumsi per kapita mereka 9 x lipat dari Indonesia, padahal mereka bukan penghasil BBM.

    Negara AS, Jepang, Korsel, Singapura “boros BBM” karena itu dipakai untuk menggerakkan pabrik2, kantor2, dan industri mereka. Hasilnya mereka makmur.

    Kita bisa saja hemat dengan listrik byar pet. Tapi pabrik dan kantor bisa tutup dan orang2 jadi pengangguran.

    Ibarat tiap orang butuh minum 8 gelas sehari, kita mungkin bisa mengurangi minum jadi 5 gelas sehari. Tapi disuruh hemat sampai cuma minum segelas sehari itu konyol.

  30. Gw kurang setuju dengan presentasinya, terutama bagian ‘Solusi Pro Rakyat’ (satu halaman sebelum halaman terakhir). Isinya bukan solusi tapi lebih ke arah jargon yang tidak jelas bagaimana implementasinya.

    Contohnya saja di poin terakhir, ‘Nasionalisasi perusahaan minyak asing di Indonesia’. Ini gimana, apa kita mo beli perusahaan asing (yg mana hampir ga mungkin) ato mo rebut paksa perusahaan minyak asing, atau membeli kilang minyaknya? Kalo pun mo beli, uangnya dari mana dan tentunya harus meminjam dari pihak luar. Belum lagi pihak negosiator dari kita harus kuat untuk bisa menego dan membelinya dari pihak asing. Mana maulah mereka (perusahaan asing) melepas kilangnya di saat harga minyak lagi meroket begini.

    Cobalah anda juga baca media asing (Eropa, Amerika, Cina). Harga minyak meroket memang masalah global yang tidak bisa dihindari lagi. Semua negara, baik yg miskin dan kaya, dibikin susah karenanya. Kita harus sadar masalah ini dan harus siap dengan badai kasus yang terburuk. Buka mata dan hati sama fakta yang pahit di luar sana. Membuai rakyat kita dengan ‘negara kaya sumber daya alamnya’ hanya akan membuat bangsa kita lemah dan kelak akan hancur seketika kalo diterjang badai ekonomi berikutnya (kalo memang jadi ya). Tentunya harus diikuti dengan semangat pantang menyerah :-)

    Kalo anda sendiri (yang menurut gw cukup mengerti permasalahan ini) tidak mampu memberikan solusi yang konkrit, jangan harap orang lain atau pemerintah deh.

  31. Dengan adanya internet diharapkan tidak ada lagi kebohongan…semua menuju pada fakta dan logika yang ada serta data2 yg akurat…

  32. Bung Agus
    Katanya boleh dikritisi demi kepentingan bangsa. Kok, komentar saya dihapus?

  33. Setuju Fren… Selama Ini Pemerintah lakukan Bisnis SDA milik yang Harusx digunakan Oleh Rakyat…. Korupsi dilarang… eh.. malah buat bisnis Baru yang sama aja nyengsarain.. rakyat…

  34. April lalu di beberapa media cetak/elektronik ada informasi pernyataan menteri mengenai volume BBM yang disubsidi dalam 3 bulan pertama 2008 adalah 9600 juta liter (premium, solar, minyak tanah, etc..) jadi malah tidak sampai 1,2 juta BPH seperti di dokumen, hanya 0,7 juta BPH, jauh dibawah produksi minyak kita… Kan Jan s/d Mar 2008 ada 91 hari, 1 barel +/- 149 liter.

  35. Aku orang awam yang tidak paham perhitungan tentang hal-hal yang berkaitan dengan produksi BBM. Setelah membaca File Presentasi “Tak ada subsidi BBM” Gratis, kalau data ini betul wah tega banget Pemerintah bohongin rakyatnya.

  36. karena ternyata duit didunia hanya menyambangi 5% manusia di dunia :D

  37. Tidak cuma minyak bumi, Indonesia ini sangat kaya, misalnya dari pertambangan emas, perak, tembaga dll yang menikmati siapa? belom lagi kekayaan hayati dari hutan kita, dari laut wah pokonya kalo Indonesia ini yang ngelola bener pasti rakyatnya makmur, tergantung pemerintahannya, yaitu pemipin dan mentri-mentri serta dirjennya.
    Mentri 5 tahun sekali ganti, kalo dirjennya, pegawai negrinya?

    Ayao kita bikin Presiden idol atau acara seperti who wants to be presiden seperti yg di TPi dulu tahun 2003/2004 kita cari pemimpin yang mau pro rakyat, yang gak cuma ngurusin perutnya dan keluarganya…cuaepek dehhhh

  38. sebelumnya saya minta maaf karena memberikan kritik yg cukup keras.

    kalo boleh koment…. HATI HATI TERHADAP PRESENTASI TERSEBUT…
    karena mungkin akan menyesatkan orang AWAM YANG BODOH GA NGERTI EKONOMI DAN POLITIK…

    SEBELUMNYA, MOHON DIBACA TULISAN SAYA INI TENTANG MENGAPA BBM KITA HARUS NAIK???

    http://zeista.wordpress.com/2008/05/09/mengapa-harga-minyak-kita-harus-naik/

    dari data yg nizaminz berikan, dikatakan bahwa Produksi minyak Indonesia 1,1 juta barel perhari… bagaimana jika kenyataan sekarang hanya 800.000 barel perhari??? nah dari 800.000 barel tersebut berapa persen yang dibuat minyak tanah, %jadi solar, %jadi premium, %jadi Pertamax, %jadi aftur????

    setelah tau persentasenya, coba anda cari lagi info dari sekian persen tersebut berapa yg dijual kepublik, dan berapa yang dijual ke industri???

    apakah 800.000barel jadi premium semua??? ANDA SALAH… dan pernyataan anda membodohi pembaca anda.. dan perhitungan2 tersebut gagal…

    info tambahan aja, bahwa indonesia sedang memikirkan untuk keluar dari anggota OPEC, dikarenakan produksi minyaknya yg menurun dan cadanngan minyak yang dihasilkan dianggap sudah tidak layak lagi sebagai negara2 OPEC ditambah Import BBM kita yang cukup besar… (untuk ini anda silahkan cari data berapa besar import minyak kita terhadap kebutuhannya)

    Saya harap, mulai lah berhemat energi…
    dan beri pengetahuan yang benar kepada rakyat kita..
    peace…

  39. Andai BBM memang benar2 bisa tidak dinaikkan. Berarti ga cuma pemerintah yg bohong, media juga. Krn banyak media yang menutup2in fakta2 ini..

  40. Aduh BBM naik aja udah bikin pusing, mbaca tulisan ini malah tambah pusing, mau protes tapi percuma dech, tetep aja BBM musti naik :(

  41. Tolong ya Pak Kwik…
    Sebenarnya masalah BBM ini harusnya bisa diselesaikan secara bertahap dari pemerintahan setelah soeharto. Karena apa yang terjadi saat ini dikarenakan ulah pak harto yang menipu rakyat dengan sengaja meredam bbm dengan mensubsidi biar rakyat tidak ribut tapi uang subsidi dia ambil dari hutang ke luar negeri dan membuat bisnis cendana adem ayem. Ternyata jaman mega juga sama…tapi kwik diem aja.
    Kok sekarang ribut ya…SBY, jadi ini bukan salah pemerintahan SBY tapi akibat dosa masa lalu. Jangan percaya mulut mantan pejabat yang protes karena itu semua bermuatan politik untuk menjatuhkan pemerintahan sekarang, serta menaikkan pamor partainya yang jelas2 sudah kehilangan muka. JIJAY liat pejabat yang sekarang koar2 tapi dulunya kemana aja dan sibuk korupsi. Kalau mau keluarin simpanan loe..bagi ke rakyat. beres kan

  42. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuhu….

    Saya ingin fokus pada kutipan dua hadits terakhir yang antum menisbatkannya sebagai ucapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

    Bolehkah kiranya antum berbagi mengenai takhrij hadits di atas (terkhusus penilaian derajat hadits dari para Ulama) sehingga kita bisa tenang hati menisbatkan satu ucapan kepada Rasulullah ? Jazakallahu khoir….

  43. Pak Farid, Kwik Kian Gie menyebut angka US$ 10/barrel. Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy menyebut US$ 2-12/barrel. Kalau dari koran Kompas BPKP menyebut biayanya terlalu tinggi: US 9/barrel sementara ketua BP Migas menyebut US$ 1/barrel. Kalau pak Farid punya angka lain silahkan sebut angka dan sumber referensinya.

    http://www.mail-archive.com/ekonomi-nasional@yahoogroups.com/msg06637.html

    Kompas, Rabu, 24 Januari 2007

    Cost Recovery Digelembungkan

    Didi mengatakan praktek penggelembungan cost recovery tersebut menjadi salah satu penyebab tingginya biaya produksi minyak di Indonesia. “Biaya produksi minyak Indonesia per barrel mencapai 9 dollar AS per barrel. Bandingkan dengan di Malaysia yang hanya sekitar 3,7 dollar AS per barrel, atau di North Sea yang paling sulit pun juga hanya sekitar 3 dollar AS per barrel,” papar Didi.

    Padahal, apabila biaya produksi minyak bisa diturunkan 1 dollar AS per barrel, sektor migas bisa menghemat 2,5 miliar dollar AS per tahun. Diakui Didi, pihaknya hanya bisa menyampaikan temuan ke BP Migas. Meskipun begitu, ia menjanjikan akan merekomendasikan proses ke pengadilan jika terbukti ada penggelembungan. Sementara Kepala BP Migas Kardaya Warnika menilai perbandingan cost recovery yang dilakukan BPKP tidak sebanding. “Kalau mau membandingkan, harus apple to apple, produksi dengan produksi,” kata Kardaya.

    Menurutnya, biaya produksi minyak di Indonesia justru lebih murah. Biaya produksi di lapangan Chevron Pacific Indonesia hanya sekitar 1 dollar AS per barrel. (DOT)

  44. Untuk Zeista, kan data-data yang saya berikan ada referensinya. Selain itu dalam perhitungan yang saya pakai itu memakai angka 1 juta bph (dibulatkan). Kalau anda data-datanya mana sumber referensinya?

    Selain itu konsumsi BBM per kapita per tahun di Indonesia hanya 1,7 barrel/tahun atau 0,7 liter per orang per hari. Itu sudah sangat rendah dan menempati urutan 116 dari seluruh dunia di bawah negara2 Afrika seperti Namibia dan Botswana.
    Kalau dipakai untuk naik mobil yang rasio 1:10, rakyat Indonesia hanya berjalan 7 km ke tempat kerja/usaha (ini sudah PP). Padahal jarak rumah ke tempat kerja rata2 sekitar 10 km.

    Ini di bawah konsumsi BBM/kapita rakyat Singapura sebesar 59,5 barrel/tahun (26 liter/hari) atau Amerika 25,8 barrel/tahun (11 liter/hari). Rakyat AS memakai mobil yang boros bensin serta rumahnya rata2 memakai AC/Heater. Sementara rakyat Indonesia yang miskin paling cuma naik motor (1:40) dan kipas angin.

    Listrik pun sudah sering byar pet. Jika disuruh lebih hemat lagi, bisa-bisa orang menganggur karena tidak kuat jalan kaki ke tempat kerja atau pabrik2 dan kantor2 bisa tutup karena listrik sering padam.

    Jika kita ingin agar “investor” masuk atau pengusaha pribumi bisa berusaha, pemerintah harus menyediakan cukup energi.

  45. Untuk Gembili, komentar yang terlalu “keras” seperti ada kata binatang (misalnya: unta) tapi ditujukan untuk manusia atau kata “kampret” tidak saya approve.
    Meski bebas, kita tetap harus menjaga kesantunan dan tanggung-jawab.

    Untuk Abu Nisa itu berasal dari Hadist Web Digital dengan sumber:
    Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

    Perawi haditsnya: HR. Ath-Thabrani

    Hadits itu untuk mengingatkan akan adanya pemimpin yang zhalim/tiran. Bukan untuk menyudutkan.

    Tapi semoga setelah mendapat berbagai informasi penyeimbang, SBY-Kalla bisa berubah pikiran dan lebih memperhatikan kepentingan rakyat ketimbang perusahaan minyak.

  46. Kalo harga BBM nya di samain dengan harga dunia .. mungkin pangakalan SHELL dan Pertamax lebih ramai kali ya pak :D

    jadi kesimpulannya gimana pak ? , sebenarnya Pemerintah ga bayarin sebagian dari harga yang seharusnya kita bayar untuk BBM ? gitu ?….*pertanyaan dan komentar dari seorang Newbie / awam dalam hal perminyakan dan ekonomi :D*

  47. Tambah bingung deh mana yg bener…

    Lepas dari mana yang bener…
    Yang saya tau, bantuan ke masyarakat (miskin) sangat banyak macam dan nilainya, baik dari APBN atau loan.
    Yang saya liat, orang mampu pun ingin (dan bisa) menikmati bantuan tersebut…(termasuk BLT dan Beras Miskin).
    Yang saya tau, sulit sekali memberikan bantuan secara tepat sasaran kepada orang miskin, karena katanya untuk pemerataan..lagi2 yang mampu jg menikmati..
    Yang saya denger, bantuan modal kepada masyarakat sulit berkembang, karena sudah dianggap “pemberian”..jadi tidak ada pengguliran untuk masyarakat miskin lainnya..
    Yang saya simpulkan, masyarakat mampu atau miskin sama2 merasa miskin..
    Yang saya rasakan, saya kuat beli pertamax…
    Yang saya lakukan…beli premium…

  48. Kebetulan saya bekerja di bidang perminyakan, just ingin memberikan beberapa komentar :

    1. Saya setuju dengan pendapat ziesta. Hemat BBM adalah yang paling utama. Kalaupun data si penulis ini benar, maka dalam beberapa tahun kedepan, angka anda yang untung itu akan menjadi rugi, jelas karena produksi turun dan konsumsi (baca:jumlah penduduk) naik

    2. Sayangnya data yang anda sajikan juga kurang benar. Diantaranya :
    2.1. Anda salah hitung (mungkin lebih tepatnya, datanya tidak relevan lagi) produksi minyak (Note:Bukan BBM lho, ini minyak mentah) indonesia saat ini 900ribu saja, note untuk 50ribu bbl minyak, itu di-swap.
    2.2. Dari 900 ribu itu, harus dibagi dengan operator. Persentasenya beda, tapi sekitar 8-15% untuk operator, jadi produksi nett 820ribu. Bisa kita dapatkan 100% asalkan pemerintah yang mengoperasikan, dengan modal dari pemerintah juga.
    2.3. Hanya 70 % dari jumlah minyak tersebut yang setelah didestilasi akan menjadi BBM (Harusnya 70% x 820ribu = 574ribu)
    2.3. Dengan asumi perhitungan anda (impor minyak 1.2juta, harga 140), perhitungannya akan jadi negatif 570ribu dolar/hari. Itu dengan asumsi, semua biaya refinery dan distribusi gratis, dan pertamina tidak boleh untung
    2.4. Pengekspor LNG terbesar bukan indonesia, tetapi qatar
    2.5. Batubara di-ekspor karena daya serap dalam negeri kurang (buktinya tidak ada impor batubara)
    2.6. Keuntungan exxon yang 373T bukan dari Indonesia saja, coba lihat financial reportnya exxon, indonesia memberikan 30 USD/bbl, sementara asing rata-rata < 10 USD/bbl –

    3. Saya setuju dengan anda dalam beberapa hal :
    3.1. Mobil pribadi pakai pertamax
    3.2. Pajak mobil mewah naik
    3.3. BLT susah untuk diawasi

    4. Saran saya sih, mohon sebelum menulis datanya di-valid-kan dulu, dengan perhitungan yang realistis. Kasihan kan teman-teman yang bukan perminyakan jadi salah perkiraan. Asumsi juga dituliskan (misalkan:produksi minyak 1juta jangan diartikan produksi BBM 1 juga)

    5. Soal kwik, saya sih no comment. Soalnya dia orangnya Megawati (dulu pas jaman megawati bensin emang nggak naik ???)

  49. Gw setuju ama bung Zeista. Dari 800.000 bph minyak mentah Indonesia, ga banyak yang bisa dijadikan bahan bakar (BBM). Hal ini dikarenakan kadar sulfur di dalam minyak mentah kita cukup tinggi. Minyak mentah di US dan negara-negara Timur Tengah sangat rendah kadar sulfurnya sehingga lebih cocok untuk dijadikan bensin, diesel, atau avtur. Minyak mereka jga lebih diminati oleh perusahaan minyak dan bisa dihargai lebih tinggi.

    Slide presentasi ini tidak memasukkan data kadar sulfur dan persentasi BBM yang dihasilkan dari minyak mentah Indonesia. Salah-salah, ini bisa menimbulkan salah kaprah pembacanya bahwa Indonesia punya banyak minyak mentah yang bisa langsung ditransfer menjadi BBM, Diesel, dan minyak tanah.

    Salam.

  50. Untuk item 2.6 maksudnya perusahaan indonesia lifting costnya ada yang 30 USD/bbl dan perusahaan asing < 10 USD.bbl gitu maksudnya ya pak ? Iya, saya baca di kompas pertamina lifting costnya 36 USD/bbl untuk tahun lalu. Kalau yang lain nggak disebutin detil sih di kompas.

  51. saya cuma memohon pada pemerintah, agar niat untuk menaikkan harga bbm di tinjau lagi, saya melihat ruginya lebig besar dari pada untungnya, blt itu menurut saya itu pembodohan, seperti pepatah mengatakan, jangan kasih saya ikan tapi kasih saya kail, biar saya cari sebanyak mungkin, begitu juga dng blt, jgn kasih duit tapi kasih kerjaan donk, uang trilyun an itu bisa membuat banyak lapangan kerja, dari pada naikin bbm rakyat miskin yg lebih menderita, tidak cukup 100 ribu sebagai pengganti dari kenaikan harga harga nanti.
    tolong donk pemerintah betul betul tulus mikirin rakyat miskin.

    tks

  52. Untuk mas Abiyasa bisa disebutkan URL sumber informasinya yang menyatakan kualitas minyak Indonesia lebih jelek dari Timur Tengah? Sebab informasi yang saya dapat justru sebaliknya. Kualitas minyak Indonesia sangat baik sehingga diekspor ke negara2 maju:

    ===

    http://www.lintasberita.com/Lokal/BBM_Seharusnya_Gratis/

    Kualitas minyak Indonesia sangat tinggi karena mengandung sulfur yang lebih sedikit daripada minyak dari Timur Tengah. Sehingga harganyapun akan lebih tinggi. Dengan alasan mengurangi polusi, minyak Indonesia menjadi Incaran negara-negara Eropa dan Amerika. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia melakukan impor minyak Timur Tengah yang harganya lebih murah.
    ===

    http://rovicky.wordpress.com/2008/05/15/peliknya-arus-bbm-di-indonesia-3/

    Kualitas minyak Indonesia itu bagus
    ===

    http://www.acehforum.or.id/infrastruktur-indonesia-t9720.html?s=42fe673e5ea485bc7191b8e0e38569d2&t=9720

    Kualitas minyak di Indonesia adalah sangat baik sehingga negara2 maju seperti Jepang, Amerika, dsb hanya mau impor minyak dari Indonesia. Sementara semua hasil minyak Indonesia diimpor, Indonesia lalu mengekspor minyak dari Timur Tengah yg kulitasnya jauh di bawah Indonesia.
    ===

    Mohon rekan2 dalam menyampaikan data memberikan URL/sumber informasi yang dipakai sehingga tidak didapat informasi yang keliru yang akhirnya merugikan rakyat Indonesia.

    Pemerintah bisa saja meminta rakyat Indonesia yang saat ini konsumsi BBM/kapitanya menempati urutan 116 di dunia untuk hemat.

    Tapi jika ingin hemat BBM, pemerintah juga harus menghentikan ekspor minyak sebesar 500 ribu bph, LNG (meski Qatar tahun 2006 melewati Indonesia jadi eksportir LNG terbesar), dan batu bara ke luar negeri. Jangan takut kehilangan uang. Toh di Indonesia rakyat juga beli energi dengan harga nyaris sama dengan harga Internasional.

    Jangan sampai pabrik-pabrik di Indonesia tidak bisa beroperasi karena kurang energi:

    http://www.sinarharapan.co.id/berita/0711/08/eko04.html

    Gas Tersendat, PIM Rugi Rp 35 Miliar
    Sinar Harapan. Jakarta-PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) sepanjang tahun 2007 hanya efektif berproduksi selama enam bulan.

  53. To nizaminz:

    Informasi ttg kadar sulfur gw dpt pas kuliah thn 1997 dulu. Pas gw browse Internet, sepertinya informasi itu salah. Gw ngaku informasi gw ttg sulfur minyak mentah di Indo tidak salah. Gw mohon maaf buat hal ini.

    Tapi link-link yang bung nizaminz berikan juga tidak kuat dan valid karena isinya hanya blog-blog pendapat bahwa minyak Indonesia yang kualitasnya bagus. Mereka juga tidak mencantumkan data alasan dan dari mana narasumbernya.

    Gw jg tidak berhasil menemukan berapa kadar sulfur minyak mentah Indonesia. Cuman nemu bahwa minyak mentah di Arab tinggi kadar sulfurnya (http://www.energybulletin.net/2496.html). Mungkin ada teman-teman yang bisa menjelaskan seberapa bagus kualitas minyak Indonesia?

    Tapi inti komentar saya sebelumnya bahwa info produksi minyak Indonesia yang 1 juta bph (atau 900rb menurut wongminyak) adalah minyak mentah bukan BBM. Hal ini perlu diluruskan di presentasi anda sehingga tidak menimbulkan kesalahan persepsi oleh pembaca. Jadi selisih 0,2 juta impor itu juga patut dipertanyakan.

    Salam

  54. Kalu di Sidoarjo energi amat sangat banyak berlimpah….energi LUMPUR LAPINDO

  55. Hebat … power point Bapak sepertinya sudah menyebar ke mana-mana. Sampai saya yg di LN pun dikirimi oleh seorang temen berikut link blog ini. Mungkin karena judulnya, maaf, yang “heboh” dan “populis”.

    Sayangnya, data dan perhitungan yang dipakai terlalu sederhana. Sumber yang ditulis di halaman terakhir sangat minim dengan data-data yang dipaparkan. Untuk data produksi, konsumsi, ekspor, dan impor sebenarnya bisa di akses di http://www.opec.org. Bahkan data harga jual BBM di semua anggota OPEC juga ada (dlm mata uang masing2) Kalau yang mau khusus ttg Indonesia contohnya ada di: http://www.indexmundi.com/indonesia/index.html#Economy atau bisa disarikan dari http://www.eia.doe.gov/emeu/cabs/Indonesia/Oil.html. Namun tentu saja belum meng-cover hal-hal seperti yg disinggung oleh wongminyak/zeista, misal: ttg 1 bbl crude oil yang tidak mungkin jg menghasilkan 1 bbl net oil. Hasilnya pun bukan premium semua, ada komponen asphalt, minyak tanah, dll.

    Selain catatan yang secara detil telah diberikan oleh wongminyak, ada bbrp hal sepele yang menjadi tanda tanya saya sebagai orang yang tidak paham dunia perminyakan maupun dunia ekonomi:

    1. Mungkin benar kalo konsumsi BBM per kapita di Indonesia adalah ranking 116 di dunia, tetapi perlu diingat bhw angka tersebut dihasilkan dari angka pembagi (jumlah penduduk) yang besar. Secara total, menurut salah satu sumber yg saya berikan di atas, konsumsi minyak Indonesia berada di ranking 17. Sehingga penggunaan angka 116 berulang-ulang untuk menyampaikan pesan “konsumsi rendah kok kurang minyak” menurut saya kok kurang tepat dan terlalu dipaksakan.
    2. Menggunakan Rp. 4500/liter sebagai dasar perhitungan pendapatan pemerintah dari penjualan BBM di dalam negeri, menurut saya juga terlalu sederhana. Logika simple saya, di dalam angka 4500 tsb tentunya ada porsi keuntungan pengecer dan bagian perusahaan asing yg menyedot minyak kita. Kalau tidak salah, sebagian besar tambang minyak kita dioperasikan PMA dengan kontrak bagi keuntungan 85% utk PMA dan 15% utk pemerintah. Mohon dikoreksi kalau saya salah
    3. Perbandingan harga minyak: jika harga BBM di Indonesia dianggap lebih mahal daripada harga International, mengapa masih ada penyelundupan BBM ke luar negeri? Logikanya harga yang lebih murah di dalam negeri dibandingkan dg pasar internasional-lah yang memicu aksi penyelundupan. Namun begitu, memang murah atau mahal di sini sangatlah relatif dan debatable mengingat daya beli masyarakat kita yg rendah.

    Lepas dari data dan perhitungan yang menurut saya terlalu sederhana tadi, dan mungkin sebagaimana kata Zeista, maaf, bisa menyesatkan orang awam, saya juga setuju thd beberapa poin spt mobil pribadi pakai pertamax dan pajak mobil mewah naik.
    Tentang perlu tidaknya kenaikan BBM memang adl suatu keputusan yang dilematis bagi pemerintah. Kalau dinaikkan jelas akan menimbulkan dampak sosial ekonomis di masyarakat, tetapi kalau tidak dinaikkan, dengan kondisi APBN yang seperti saat ini, banyak yang percaya kalau harga minyak terus membumbung lama kelamaan negara kita akan collapse. Di sisi lain, dari bbrp artikel yg saya baca, subsidi BBM yg selama ini dikucurkan pemerintah ternyata tidak tepat sasaran (rakyat miskin) karena 82% dr subsidi tsb justru dinikmati oleh orang yg berkendaraan pribadi. Lebih parah lagi, 70% dari 80% tadi hanya dinikmati oleh 40% golongan yaitu orang2 kaya yg mobilnya lebih dari satu (ada bbrp sumber, salah satunya: http://www.thejakartapost.com/news/2008/05/14/editorial-fuel-politics.html).

    Sekali lagi, lepas dari bbrp catatan yg diberikan thd power point Bapak paling tidak power point ini semakin menyadarkan orang bahwa ada sesuatu yang salah dalam manajemen perminyakan kita.

    Salam. Maaf kalau tidak berkenan.

  56. saya setuju bbm dinaikkan, dan subsidinya dialihkan, agar subsidi tsb jatuh ke tangan yang berhak.

  57. Buat wongminyak :
    Tapi kenyataannya harga minyak bukan 140 bung, nizamin hanya membuat contoh yang paling mahal saja, coba hitung dengan harga yang ada saat ini? Seakurat2nya! Paling tidak impas lah!
    Ada konspirasi asing dibalik kenaikan BBM ini!
    Yang pasti kesalahan pemerintah adalah mereka tidak mau transparansi APBN terhadap rakyatnya, bukankah media sudah banyak? Secara jangka pendek saya belum bisa menyalahkan siapa2, karena kurangnya data yang akurat dari pemerintah, tapi secara jangka panjang aku salahkan pemerintah! Pemerintah Kita tidak ada yang Visioner dan Revolusioner! Tolak Kenaikan BBM!!!

  58. Saat ini adalah saat yang oleh para ekonom internasional disebut sebagai
    “the most exciting time to be an economist” situasinya hampir sama
    seperti pada akhir 1920-an saat terjadinya “Great Depression” yang
    berujung pada perubahan mendasar sistem global. Saat ini dunia dihantam
    secara beruntun oleh credit crunch perumahan dan kartu kredit di AS,
    serta kenaikan komoditas energi dan pangan secara bersamaan.

    Walaupun Indonesia tidak terlalu terkena dampak dari krisis keuangan di
    AS, tapi kita jelas terkena dampak akibat naiknya harga komoditas energi
    dan pangan, karena Indonesia sayangnya termasuk sebagai negara pengimpor
    BBM dan beras, dan lebih parahnya lagi, Indonesia menghabiskan sebagian
    besar APBNnya untuk mensubsidi konsumsi BBM dalam negeri.

    Secara rasional ekonomi, dalam kondisi seperti ini hampir tidak ada
    jalan lain bagi pemerintah selain mengurangi subsidi BBM yang tidak
    tepat sasaran dan mengalihkannya ke sektor yang lebih produktif dan
    bermanfaat bagi masyarakat khususnya kaum miskin. Namun sayangnya
    kondisi menjelang pemilu seperti saat ini menjadikan isu ini sangat
    kental dipengaruhi unsur politis dan banyak parpol akan memanfaatkan
    kondisi ini untuk memobilisasi suara massa walaupun kalau mereka
    berkuasa mereka juga tidak punya pilihan lain selain menghapus subsidi
    BBM.

    Nah, sebelum ikut demo menentang ‘kenaikan harga BBM” (atau lebih
    tepatnya pengurangan subsidi BBM), mari kita simak beberapa hal:

    1. Negara-negara yang masih memberlakukan subsidi BBM punya beberapa
    kesamaan karakteristik:
    (a) net exporter minyak, sehingga mereka bisa imbangi subsidi minyak
    rakyatnya dengan revenue dari ekspor minyak (walaupun tidak peduli apa
    yang akan terjadi ketika cadangan minyak mereka sudah menipis).
    (b) rejim otokratik (terlepas apakah mereka sosialis populis seperti
    venezuela atau diktatorian seperti mesir dan arab saudi), dan subsidi
    minyak adalah metoda paling efektif untuk meraih dukungan rakyat
    (walaupun sebetulnya penikmat terbesar subsidi tersebut adalah middle
    class & elit)
    (c) sistem ekonomi tertutup (pembatasan ketat pemerintah terhadap arus
    ekspor impor), sehingga mereka tidak perlu terlalu khawatir dengan
    resiko penyelundupan BBM subsidi keluar negeri, walaupun kenyataannya
    pasti akan terjadi juga seperti di Nigeria.

    Bagaimana dengan Indonesia? Walaupun secara total kita masih net
    exporter gas alam, tapi kita adalah net importer BBM (karena struktur
    industri kita selama puluhan tahun adalah mayoritas oil fuel based
    sebagai warisan kesalahan regim sebelumnya). Namun kita perlu bersyukur
    karena punya sistem politik yang demokratis sehingga ada debat publik
    yang jauh lebih transparan dan bermutu mengenai perlu tidaknya kita
    mempertahankan subsidi BBM. Dan yang terakhir adalah karena kita
    menganut sistem ekonomi yang terbuka dan secara riil sebagai negara
    kepulauan kita tidak akan pernah bisa menjamin bahwa BBM subsidi tidak
    akan diselundupkan ke singapura atau malaysia seperti yang terjadi
    selama 40 tahun terakhir.

    2. Sekarang kita lihat pokok permasalahannya. Dengan asumsi harga minyak
    95$ per barel (padahal saat ini harganya sudah 120$ perbarel), subsidi
    BBM mencapai lebih dari 130 trilyun rupiah (bandingkan dengan subsidi
    pangan yang tidak sampai 9 trilyun rupiah) dan harus dibayar dari APBN
    yang berasal dari pajak yang ditarik dari seluruh rakyat Indonesia. Dan
    siapa yang menikmatinya? Beberapa studi independen menunjukkan bahwa 90%
    subsidi BBM dinikmati oleh 10% rakyat Indonesia yang berasal dari dari
    kalangan menengah-atas. Bahkan ketika subsidi BBM dikurangi di tahun
    2005, kenaikan jumlah orang miskin bukan disebabkan oleh harga BBM yang
    lebih mahal, tapi oleh kenaikan harga beras dan bahan pangan lainnya
    (karena kenaikan harga komoditas pangan global).

    Jawab secara jujur, ketika kita mengisi bensin di pom, berapa banyak
    pemilik mobil pribadi yang memilih BBM non-subsidi (petramax) dan
    bukannya premium yang disubsidi oleh seluruh rakyat yang sebagian besar
    bahkan tidak pernah bermimpi untuk punya mobil? Para pemilik rumah mewah
    dengan AC di tiap kamar dapat menikmati subsidi BBM yang jauh lebih
    besar, juga para pemilik dan pengunjung mall, bioskop dan pusat2
    perbelanjaan. Adilkah itu? Anehkah bahwa kuota tahunan BBM bersubsidi
    terlampaui hanya pada beberapa bulan pertama dan penggunaan BBM
    non-subsidi tidak meningkat signifikan? Pernahkah bertanya kenapa di
    wilayah sepanjang perbatasan dengan malaysia dan singapura sering
    terjadi kelangkaan BBM walaupun pertamina bersikeras bahwa jumlah yang
    didrop ke daerah tersebut sudah sesuai perhitungan demand? Pernahkah
    nasionalisme terusik ketika fakta menunjukkan bahwa subsidi BBM justru
    dinikmati oleh pengusaha2 di Singapura & Malaysia? Memang bahwa kita
    seharusnya mengawasi lebih ketat wilayah perbatasan, tapi realitanya
    ongkos untuk bisa efektif mengawasi sepanjang wilayah perbatasan kita
    mungkin jauh lebih mahal dari total subsidi BBM.

    3. Di sisi lain sangat aneh ketika kita berteriak untuk menyelamatkan
    bumi dari pemanasan global, kita justru tetap mempertahankan subsidi
    BBM. Tahukah teman-teman bahwa ketika pemerintah mengurangi subsidi BBM
    di tahun 2005, Indonesia dapat mengurangi 50% jumlah emisi karbon yang
    dihasilkan dan hal itu merupakan rekor dunia? Dan efek positif lainnya
    efisiensi pemakaian BBM per kapita dan di kalangan industri juga
    meningkat. Coba lihat di Venezuela dan Nigeria, dimana rakyatnya
    menghambur-hamburka n BBM dengan memilih kendaraan yang boros bahan
    bakar, dan kalangan industri juga tidak berusaha meningkatkan efisensi
    produksi mereka.

    4. Saat pemerintah mengurangi subsidi BBM thn 2005, di tahun 2006 kita
    mendapatkan “fiscal space” sebesar hampir 150 trilyun rupiah. Dana
    tersebut dipakai untuk meningkatkan pengeluaran pembangunan sebesar 20%,
    meningkatkan subsidi pemerintah pusat ke daerah sebesar 32%, mengurangi
    secara drastis utang luar negeri kita, dan meningkatkan cadangan devisa.
    Pernahkah kita bayangkan kalau subsidi BBM saat ini sebesar 130 trilyun
    per tahun itu sebetulnya dapat digunakan untuk memperbaiki infrastruktur
    di seluruh Indonesia, menambah investasi bagi penggunaan energi bersih
    (geothermal, solar, windpower), memperbaiki pelayanan air bersih bagi
    masyarakat kota, menyediakan kredit lunak bagi jutaan pengusaha mikro,
    bantuan susu dan suplemen gratis buat para balita, atau memberikan
    pendidikan dan kesehatan gratis bagi seluruh rakyat?

    5. Jika pemerintah pada akhirnya memutuskan untuk menghapuskan subsidi
    BBM, memang itulah yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah yang
    bertanggungjawab dan tidak hanya mengejar popularitas. Tapi yang juga
    wajib diperhatikan adalah bagaimana pemerintah mengantisipasi dampak
    kenaikan harga akibat penghapusan subsidi BBM tersebut, khususnya bagi
    rakyat miskin. Jadi daripada memperdebatkan perlu tidaknya menghapus
    subsidi BBM kenapa kita tidak justru mendiskusikan bagaimana
    meminimalisir dampak kenaikan harga terhadap rakyat, apakah melalui
    subsidi tunai, cash for work, asuransi kesehatan dan pendidikan, dsb.

    Nah, jadi daripada kita demo untuk “tolak kenaikan BBM!” bagaimana kalau
    kita demo untuk “alihkan subsidi BBM menjadi pendidikan dan kesehatan
    gratis untuk rakyat!” dan daripada memobilisasi demo ke istana bukankah
    lebih baik memobilisasi mahasiswa dan elemen masyarakat untuk mengawasi
    penyaluran subsidi langsung kepada rakyat miskin? Saya bermimpi suatu
    saat mahasiswa Indonesia naik ke tahapan demokrasi selanjutnya yaitu
    partisipasi dalam implementasi kebijakan publik dan tidak hanya terjebak
    dalam “romantika demonstrasi” . Lagipula jamannya sudah beda, dulu di
    jaman Orba kita berdemonstrasi karena saluran politik tersumbat sama
    sekali, tapi sekarang kita sudah punya kebebasan media dan sistem
    pemerintahan yang sudah sangat berbeda.

    PS: Oh ya, perlu diklarifikasi email sebelumnya mengenai perbandingan
    harga BBM. Sejak 2004-2006 saja malaysia telah 5 kali mengurangi subsidi
    BBM. Saat ini harga petrol di Malaysia sekitar 0.7$ perliter atau
    Rp6.500 (kurs 9000/$) dan pemerintahnya juga sedang mempertimbangkan
    penghapusan lebih lanjut subsidi BBMnya. China juga sedang
    mempertimbangkan mengurangi subsidi BBM karena menyedot ratusan trilyun
    anggaran pertahunnya. Harga BBM di AS relatif masih di bawah harga
    seharusnya karena lobby industrialis otomotif mereka yang akan terpukul
    apabila harga BBM naik. Malaysia mungkin bagus buat perbandingan public
    policy, tapi tolong jangan bandingkan Indonesia dengan Venezuela,
    Nigeria atau Saudi! Tidak comparable sama sekali.

  59. Bagi rekan2 yg ingin mengetahui Nota Keuangan dan APBN 2008, bisa unduh naskahnya di: http://www.hukmas.depkeu.go.id/Ind/News/NewsFiscal.asp?link=apbn.htm

    Semoga bermanfaat.
    Salam

  60. Sebelum menuduh ada konspirasi asing di balik kenaikan BBM, ada baiknya melihat situasi BBM di negara-negara lainnya. Di Jepang barusan BBM dinaikkan, di US udah lama, dan di EU juga sedang menaik. Ini memang masalah global yang kebanyakan negara pada kena.

    Bisa di cek di Internet. Bahkan selain masalah harga minyak dunia yang menaik, orang-orang di luar negeri lebih pusing dengan harga pangan yang juga meroket. Media di Indo kurang menyoroti masalah global yang satu ini, padahal harga pangan yang tinggi bisa lebih mengancam.

    Pemerintah kita kurang revolusioner? Udah kok, mereka udah membuat gerakan revolusioner dengan menghapus subsidi BBM yang telah dinikmati rakyat bertahun-tahun. Kurang revolusioner gimana :-)

  61. Oke, Bung Agus. Maaf atas bahasa kasar saya pada posting sebelumnya. Boleh dong sekarang saya posting dengan bahasa sopan…:D

    1. Seperti sudah dingiatkan oleh posting di atas, data paling mutakhir menyebutkan bahwa produksi minyak kita (lifting) cuma 900.000 barel per hari. Bagi hasil 85:15—-> 85% pemerintah, 15% kontraktor.

    2. Tak semua produksi minyak itu bisa langsung dipakai. Harus diolah dulu di kilang. Celakanya, tak semua kilang milik Pertamina bisa mengolah minyak mentah langsung menjadi BBM yang siap pakai. Contohnya, hanya kilang Balongan yang bisa bikin Premium. Makanya sebagian besar Premium masih harus kita impor, terutama dari Singapura. Singapura enggak bisa nyedot minyak tapi bisa produksi BBM. Kilang kita cuma bisa bikin minyak tanah. Ironi ini terjadi karena kebijakan Orde Baru dulu. Waktu itu Pak Harto ingin mengambil hati rakyat dengan mengguyur minyak tanah, sehingga kilang-kilang yg dibangun adalah kilang minyak tanah. Tapi, entah mengapa, seiring perkembangan zaman tak ada pertambahan kilang canggih, kecuali Balongan dan Cilacap. kalau mau berpikir buruk, boleh jadi ini buah dari konspirasi Soeharto- Lee Kuan Yew dulu…

    3. Bagi hasil 0:100 di Blok Natuna D Alpha antara pemerintah dan Exxon belum berjalan sama sekali. Belakangan konsesi untuk Exxon ditarik lagi dan diserahkan kepada Pertamina. Kini belum jelas lagi nasibnya.

    4. Setahu saya, melonjaknya harga BBM saat ini lebih didorong oleh aksi spekulasi dalam perdagangan derivatif minyak. Hampir semua peristiwa bisa dijadikan alasan untuk mendongkrak harga minyak. Dari pipa di Mexico yang bocor, sampai pipa di Nigeria yang meledak, semua jadi pemicu aksi spekulasi harga minyak.

    Siapa paling beruntung dari melonjaknya harga minyak ini? Tentu saja perusahaan-perusahaan kontraktor minyak dunia seperi ExxonMobile, Shell, Conoco, atau BP. tapi jangan lupa, kontraktor itu hanya menyedot minyak milik neger-anegara penghasil minyak, termasuk Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Nigeria, serta Kuwait. Jadi, negara-negara Arab tersebut sekarang juga sedang bersorak-sorai atas meroketnya harga minyak.

    5. Sepertinya relevan saya sebut di sini, bergelimangnya uang di Uni Emirat Arab ini tampak dari “kebingungan” mereka membelanjakan uangnya. Makanya, sekarang pada hampir semua institusi keuangan internasional yang dulu dikuasai oleh orang-orang Yahudi, kini juga ada saham-saham orang Arab, khususnya Dubai. Dari Citibank sampai bank-bank paling puritan di Inggris pun sudah dikuasai oleh dana-dana minyak dari Timur Tengah dandana milik tetangga kita tercinta: Singapura.

    Nah, lihat, walau Dubai bergelimang uang, sekadar untuk memodali (bukan hibah) monorail dan proyek-proyek infrastruktur di Indoensia saja mereka begitu pelit. Menghitung untung ruginya lebih rumit ketimbang investor dari China. Di sinilah saya yakin bahwa uang memang tidak kenal agama. Mau saudara seagama, kalau kere yang lupakanlah. Tapi, begitu ada bau fulus, uang mereka akan datang walau beda agama.

    6. Besarnya angka konsumsi “BBM bersubsidi” sebenarnya meragukan. Kuat dugaan, besarnya angka itu hasil mark-up Pertamina. Bayangkan, bertahun-tahun Pertamina bertugas menyalurkan premium, minyak tanah, dan solar kepada masyarakat. Lalu, mereka mengajukan klaim angka distribusi BBM yang sudah mereka lakukan. Selain menagih ongkos pembelian BBM yang ditalangi pertamina, mereka juga minta fee jasa distribusi. Apakah tidak mungkn ada moral hazard bagi Pertamina untuk mark-up? Sejauh ini tak ada satu instrumen pun yang bisa memverifikasi secara akurat angka yang diklaim oleh Pertamina.

    Fakta membuktikan, setelah ada BPH Migas,…data-data penyaluran BBM antara dua intansi tersebut selalu tak sama. Pertamina selalu mengklaim lebih banyak.

    7. Selain mark-up, disparitas harga juga membuat “kebijakan subsidi BBM” tak efektif. Lihat saja, sudah berbulan-bulan ini minyak tanah di pasar eceran seharga Rp 6.000 per liter! Mengapa? Minyak tanah bersubsidi langka karena diborong oleh perusahaan-perusahaan yang seharusnya memakai minyak tanah dengan harga industri, bukan harga subsidi. Sebagian malah diselundupkan ke luar negeri. Ini memang klise, tapi fakta. Lagi-lagi, ada kecurigaan kuta Pertamina terlibat dalam penyelundupan dan penyelewengan ini.

    8. Itu sebabnya, belakangan muncul rencana pemerintah untuk menerapkan smart card. Intinya, dengan memakai teknologi ini, setiap mobil hanya bisa membeli bensin dengan harga subsidi dalam volume tertentu. Kalau lebih dari itu harus membayar dengan harga pasar. Nah, pemerintah hanya akan menerima klaim Pertamina sebesar volume BBM bersubsidi yang benar-benar mengucur ke tangki mobil dan tercatat dalam sebuah database terintegrasi yang inputnya langsung berasal dari “bar code reader” di SPBU-SPBU.

    9. Negara-negara lain yang bisa menjual BBM dengan harga murah jelas karena beban APBN mereka tidak seberat kita. Nah, berkaitan dengan beban APBN, saya merasa harus membeberkan fakta pahit bahwa…sebagian kepahitan ini akibat penanganan krisis perbankan 1999 yang enggak benar. Waktu itu, demi menyelamatkan deposito orang-orang kaya, pemerintah menginjeksi modal hampir seluruh bank nasional yang di atas kertas sudah bankrut karena kredit macet para konglomerat. Berhubung waktu itu pemerintah tak punya uang segar, injeksi modal dilakukan dalam bentuk obligasi rekapitalisasi. Sederhananya, pemerintah berutang kepada bank-bank itu dan pelunasannya dilakukan dengan cara menyicil. Sampai sekarang sebagian kewajiban mencicil itu masih terjadi dan membebani APBN kita hingga lebih dari Rp 50 triliun.

    Sebagian besar orang yang kini berteriak dan mengumpat terhadap rencana kenaikan BBM adalah penikmat obligasi rekapitalisasi secaratak langsung. Malah, mereka mendapat bunga tinggi sampai 60% waktu itu. Padahal, seharusnya, uang mereka sudah hangus pada 1999 dulu. Argentina memilih menghanguskan duit nasabah bank, ketimbang menyelamatkan bank.

    10. Keterlibatan kontraktor minyak asing hampir mustahil dihindari. Mengapa? Nyaris tak ada pemgusaha lokal yang mau menginvestasikan uangnya kepada bisnis minyak, khusunya pada tahap eksplorasi. Sebagian sumur minyak itu ditemukan dengan cara mengebor secara spekulaitf titik titik tertentu. Kalau ketemu dan memang diduga memiliki kandungan yag ekenomis, baru disedot. Kalau enggak ya ditimbun lagi cara yang lain. Nah, tak ada investor lokal yang mau melakukan itu. Kalau pun pada tender-tender baru nama-nama lokal memang, mereka cuma cari izin. Izinnya lantas mereka jual ke perusahaan besar.

    Amien Rais termasuk paling getol mengkritik keterlibatan asing pada bisnis migas. Tapi mengapa Muhammadiyah tak mau ikut tender lapangan minyak? Mereka malah masuk ke bisnis perbankan dengan membeli saham Bank Perserikatan yang kini kisruh?

    Soal Solusi:

    Saya setuju hampir seluruh poin solusi Anda, dan menambahi.
    1. Ada bensin premium (bukan pertamax) dengan harga internasional (lebih murah dari Pertamax).

    5.

  62. Sorry, ketinggalan satu poin.

    hati-hati terhadap data yang berasal dari penerbitan media massa. Saya orang pers dan tahu benar terdapat sejuta kemungkinan terjadinya bias, baik disengaja maupun tidak disengaja pada berita-bertia koran/ majalah/ TV. Bisa karena wartawan salah dengar, salah kutip, atau sengaja mereka bermaksud memelintir berita.

  63. Saya orang awam yang tidak mengerti perhitungan ekonomi Minyak,BBM dan subsidi, namun saya SANGAT TIDAK SETUJU bila harga BBM mesti meningkat dengan alasan akan ada subsidi ataupun BLT lagi pada rakyat kecil, justru dengan kenaikan harga BBM lah yang menyebabkan semua harga barang terutama bahan pokok ikut meningkat, kasihan rakyat kecil.. kasihan bangsa ini, walau jumlah BLT yang akan diberikan kabarnya juga akan lebih banyak, namun administrasi untuk pengurusan, pendataan, pendistribusian dan lain-lain pasti akan menambah problema baru, saya prihatin.. sangat prihatin.. banyak yang harus dibenahi lagi. Semua menjadi tanda tanya yang besar di benak saya, ADA APA SEBENARNYA DENGAN INDONESIA? Ada apa dibalik keputusan naiknya BBM ?, saya hanya wong cilik, namun saya tetap harus memikirkan kesusahan orang-orang sekitar saya, kesusahan rakyat Indonesia..

  64. WAH,
    TABEL XLS Y ADA YANG KURANG PAK, NILAI KONSINYASI ANTAR PEMERINTAH DENGAN PERUSAHAAN (ASING MAUPUN BUKAN) BERAPA? SAYA COBA MASUKKAN NILAI SEBESAR 50%, DAN YANG DIDAPAT DEFISIT SEKITAR 175M perhari. DAN BENAR SAAT 56$/barrel MENDAPAT UNTUNG 100M/hari.

    SILAKAN DICOBA,SAYA AKAN COBA LETAKKAN DI BLOG SAYA KOREKSINYA…

  65. aduh teman-teman stoplah makin memprovokasi pemerintahan sby & JK dari hanya kenaikan BBM. Kenapa pejabat-pejabat yang dulu sudah menghabiskan uang rakyat baru ribut sekarang? Kelihatan banget itu semua bermuatan politis. Jadi mari sekarang kita berpikir pakai akal sehat, mencerna dan sama menjalankan semuanya dengan ikhlas dan konsisten. Dari semua presiden yang pernah ada baru SBY saya rasa masih berkualitas daripada SBY lainnya. Yang paling jelas anda lihat megawati terlihat sekali memanasi rakyat padahal dimasa pemerintahan megawati tidak ada satupun progres yang berhasil dicapai malah koperasi makin merajalela, preman makin hidup dimana-mana. Ayolah kita lebih baik berpikir objectif dari hati yang bersih…

  66. maksudnya korupsi dan kebijakan yang menguntungkan pemerintahan sebelumnya. Tolong dicheck harta suaminya megawati dari sebelum s/d sesudah jadi presiden megawati. Berapa banyak penggelembungan atau penambahan SPBU dibawah bendera keluarganya. Apa ini pemimpin benar atau menumpuk kekayaan, ayolah lebih baik kita memilih pempimpin yang berkualitas secara ilmu, leadership, kebijaksanaan dan lain-lainnya.

  67. Semakin bingung baca posting dari teman2..;-). Kalau prinsip saya sih sederhana saja d : Gak ush mkrin masa lalu yang menyakitkan atau masa depan yang tidak menentu, pikirin hari ini aja deh. Pasti damai sentosa

  68. Ketajaman datanya cukup bagus saya berterimaksih sekali

  69. KKG salah itung,
    coba ditanya2 dulu ke orang2 perminyakan mana pun yang kau percayai,
    itung2an itu di mana salahnya,

    Jangan cuma nmentang-mentang yang bikin Kwik Kian Gie (yang tokoh PDIP by the way, partai oposisi), terus percaya mentah-mentah.

  70. Assalamu’alaikum wr.wb.

    Pembuat tulisan yang saya hormati, saya mencermati tulisan bapak. Ada asumsi yang tidak benar dari perhitungan subsidi BBM. Asumsi yang tidak benar adalah, produksi minyak mentah=produksi BBM. Perlu diketahui, bahwa produksi minyak mentah (crude oil) tidak akan pernah sama dengan produksi BBM, alias tidak mungkin 100% bisa menjadi BBM. Asumsi ini menyesatkan karena, berkesan bahwa kita hanya impor sedikit BBM.

    Proses pengilangan minyak di Indonesia berkapasitas 1 juta barel, demikian juga dengan produksi crude oil nya. Hasil dari pengilangan minyak mentah, paling tinggi hanya menghasilkan 70% produk BBM. Dapat menghasilkan 50% produk BBM pun sudah sangat bagus. Apa saja kah produk BBM? Di antaranya adalah, LPG, kerosene (minyak tanah), avtur, premium (mogas), pertamax, dll. Nah, yang sisanya tidak bisa diolah menjadi BBM adalah misal, aspal, parafin, dll.

    Apa yang dimaksud dengan subsidi BBM?
    Subsidi BBM = Penjualan produk BBM – Biaya menghasilkan BBM
    Penjualan produk BBM = Total volume BBM * Harga jual BBM
    Biaya menghasilkan BBM = Total biaya (impor crude, pembelian minyak mentah dalam negeri, impor BBM, pengilangan, distribusi, tak langsung)

    Sekarang kita menghitung harga BBM normal. Harga crude oil (USD 127) + biaya proses menjadi BBM (USD 15) = USD 142 per barel. Berarti harga BBM per liter adalah (USD 142*9200)/159 liter = 8,100 rupiah per liter.

    Berapa produksi BBM yang bisa dihasilkan Indonesia? Misal, 70% (maksimal dan sepertinya tidak mungkin terjadi) dari produksi crude oil 2008 sebesar (pembulatan) 1 juta barel. Berati 700,000 barel BBM per hari. Berapa kebutuhan per hari Indonesia, berdasar APBN 2007 adalah 1.2 juta barel BBM per hari. Harus impor sebesar 500,000 barel per hari. Harga BBM (premium) untuk kendaraan bermotor adalah 4,500 rupiah per liter. Berarti yang harus di support oleh … (siapa yah yang bayar selisihnya? ^_^ ) sebesar 4,500 x 500,000 = 2.25 Milyar rupiah per hari. Ini juga asumsi nya agak berlebihan. Karena, sebagian besar BBM di serap oleh industri. Dimana harga BBM untuk industri berkisar di atas 7,000 rupiah per liter. Dan belum termasuk harga produksi BBM dalam negeri (gak mungkin gratis kan, meskipun ngolahnya di dalam negeri).

    2.25 Milyar rupiah per hari, adalah nilai maksimal support dari “unknown” yang digunakan untuk menggerakkan ekonomi. Mungkin kurang, mungkin juga lebih. Mengingat, data saya tidak menyertakan besar konsumsi BBM masing2 konsumen (industri, rumah tangga, transportasi, dll) dan besar produksi BBM dalam negeri.

    Jadi tulisan yang menyatakan bahwa tak ada subsidi BBM, adalah salah persepsi (takut marah kalo dibilang salah). Mungkin banyak yang mendukung tulisan bapak, karena sangat kontra dengan pemerintah dan masuk bagian dalam penolakan kenaikan harga BBM. Masyarakat awam yang kurang mengerti perhitungan detail dan proses pengilangan jadi bersorak dan gembira dengan adanya tulisan bapak. Tapi sekali lagi, tulisan tersebut keliru dalam mengasumsikan produksi minyak mentah sama dengan produksi BBM. Perhitungan bapak mirip dengan perhitungan nya pak Kwik Kian Gie di http://www.koraninternet.com. Pak Kwik juga melakukan kesalahan asumsi yang sama.

    Saya juga bukan orang yang bisa menikmati dinaikkannya harga BBM. Tapi, saya berusaha agar saya dan keluarga tidak boros dan lebih arif dalam menggunakan energi tak terbarui ini. Dan saya berdoa, agar pemerintah bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk Indonesia.

    Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Semoga mencerahkan.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.
    Cahyo

  71. Assalamu’alaikum wr.wb.

    Afwan, jika memang bapak Agus Nizami sudah menyadari kesalahan persepsinya dalam menghitung produksi BBM, agar merevisi file perhitungan “tak ada subsidi BBM !”. Afwan sekali lagi, ana khawatir bahwa ini akan semakin memberikan distorsi informasi kepada masyarakat awam. Karena, sudah banyak sekali milis2 yang mereferensi kan tulisan bapak Nizami ini. Dan banyak juga yang sudah menelan mentah2 perhitungan tersebut.

    Namun, jika memang saya salah melakukan perhitungan, dengan sebesar2nya saya memohon maaf kepada para pembaca, khususnya kepada bapak Nizami.

    Afwan jika kurang berkenan.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.
    Cahyo

  72. Simulasinya cukup falid untuk exspor-impor crude oil, sehingga kita terlihat masih untung. Sayangnya ini belum memasukkan impor kerosene, gasoline, solar (minyak hasil olahan) kita dari singapore karena kita tidak bs memenuhi kebutuhan BBM dari kilang kita saja. Kilang kita tidak bs suplai permintaan dalam negeri karena kapasitasnya yg terbatas. Secara Net Crude Oil kita memang eksportir. Tp kalo udah minyak hasil olahan/BBM kita sudah net importir. Kita harus siap menghadapi kenyataan bahwa negara kita sudah tidak kaya lagi.

  73. Lagi-lagi ketemu AS (US), emang kita udah jadi anteknya.

    masih nunggu orang yang berani dobrak negara tiran itu

  74. assalamu’alaikum
    Saya setuju sekali dengan isi tulisan bapak, meskipun mungkin angka2 yg disajikan mungkin tidak akurat 100% tp sudah bisa memberikan gambaran mengenai subsidi bbm.

    ingin komentar mengenai tanggapan pak Cahyo: anda bilang asumsi bahwa dari 1jt barel 70% bisa dipake bikin BBM = 700rb barel, tp jangan lupa pak sisa yang 30% gak dibuang kan? masih laku dijual kan? sekarang anggap aja di buang d.
    brarti tinggal ganti aja angka yg di slide pak nizam dengan angka 700rb itu mungkin seperti ini
    yg minyak produksi sendiri untungnya 62 x 700rb = 43,4Jt. yg diimpor harga 159 dijual 77, rugi 82 * 500rb = rugi 41jt. net nya jadi masi untung 2,4jt loh pak. memang si pak, klo diitung gini sekarang untung besok rugi, tergantung tingkat pemakaian, tergantung tingkat produksi, tp ini menunjukkan bahwa gak bener itu harga harus 100% pake harga pasar.
    haruse komponen BBM bagian pemerintah dari penambangan di bumi indonesia harus ditampilkan sebagai yg dapat dinikmati rakyat seharga biaya lifting dll yg katanya 15-20USD/per barel itu.

    salam.

  75. Sekarang kita bicara bagaimana cara menaikkan penghasilan..
    BBM udah pasti naik..

  76. Saya surfing di internet trus masuk di situs:
    Source: http://ananta.wordpress.com/2008/05/16/data-seputar-bbm/
    ada referensi seperti ini:

    Perhitungan tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun ada beberapa asumsi yang kurang.
    • Tidak semua minyak mentah dapat diolah menjadi bensin. Rovicky menuliskan dari 1 barrel minyak mentah, hanya sekitar 0.35 barrel saja yang bisa diolah menjadi bensin. Angka itu sendiri tidak baku, karena masih ditentukan oleh kualitas minyak mentah itu sendiri. Berapa % kah minyak Indonesia yang bisa diolah menjadi bensin? Ada yang bisa memberikan datanya.
    • Mengolah minyak mentah menjadi bensin memerlukan biaya tambahan lagi. Seperti transportasi, pengilangan, dan penyulingan.
    Eksplorasi minyak di Indonesia 90 % dikuasai oleh perusahaan asing. Tentunya kita harus memasukkan faktor perjanjian ‘pembagian jatah’.
    Faktor-faktor di atas tentu akan mempengaruhi perhitungan secara drastis. Berikut sedikit gambaran dari orang perminyakan:
    • Split oil itu 85 : 15, jadi dari 1 juta produksi itu 850,000 bbl yang punya negara (85 %), belum lagi kalau lapangan marginal, bagi hasilnya bisa 70:30 tergantung isi kontraknya
    • Dikurangi lagi biaya produksi US$15/bbl yg dipotong dari minyak juga (US$15 /bbl : 125 US/bbl) = 0.12 %
    Total potongan saja : 0.15 + 0.12 = 0.27 ~ 0.3 (dibulatkan) dari lapangan marginal yg splitnya 70 : 30, total punya Negara cuma 700,000 Bbl/day maximum (kalau asumsi 1 jt bbl/day pdhal sekarang cuma 940 bblribu/d), jadi bersihnya cuma 660 bbl/day
    Terakhir, satu lagi kritik dari orang perminyakan mengenai perhitungan Kwik.
    Produksi dalam liter per tahun:
    70 % x (1,000.000 x 159 ) x 365 = 40,624,500,000
    produksi ini adalah crude oil, dimana tidak semua crude oil itu bisa dikonversi sebagai BBM (bensin, solar, minyak tanah). Fraksi ringan, jadilah dia LPG, sedangkan fraksi berat jadilah dia aspal, wax dsb. Sementara bensin dan sebangsanya itu fraksi yang agak berat, masih bagus kalo crude yang diproduksi bisa jadi BBM separuhnya, katakanlah rata-rata 50 % artinya yang jadi BBM itu cuma 20,312,250,000 liter.
    Konsumsi dalam liter per tahun 60,000,000,000, ini adalah konsumsi BBM, bukan crude. Jadi sesungguhnya impor yang dibutuhkan bukanlah sebanyak 19,375,500,000 liter tapi 43.750.200.000 liter BBM lebih dari 2 kali lipat itungannya KKG. Kalau kita impornya dalam BBM siap pakai maka harganya bukan lagi $100/barrel tapi $100/barrel + biaya pengolahan + biaya transport. sehingga harga belinya jadi $110/barrel

    Maka hitungannya pak Kwik menjadi
    Rupiah yang keluar untuk impor:
    (43.750.200.000 : 159) x $ 110 x Rp 9500 = Rp 287,540,622, 641,509
    Kelebihan uang dari harga jual didalam negeri (hanya yang bisa dijual sebagai BBM, dalam hal ini premium)
    20,312,250,000 x Rp 3,870 (asumsinya KKG) = Rp 78,608,407,500, 000
    Maka negara mesti nombokin buat impor BBM = Rp 208,932,215, 141,509

    TOLONG KITA KAJI BERSAMA SECARA BAIK-BAIK DAN ILMIAH,
    PASTINYA TANPA TENDENSI POLITIK ATAU KEPENTINGAN TERTENTU.
    TRIMS.

  77. Dear Pak Nizami,

    Sudah dijelaskan banyak komen-komen dari teman-teman diatas bahwa hitungan bapak yang sudah menyebar luas kemana-mana adalah salah. Mohon kiranya bapak berbesar hati dan menunjukkan niat baik bapak untuk merevisinya.

    Masya Allah Pak, kalau mempertahankan argumen salah yang juga sudah disebar kemana-mana, itu sama saja fitnah. Apalagi disaat-saat seperti ini, semakin meresahkan masyarakat saja.

    Terimakasih

  78. Ibu Jana, insya Allah bukan fitnah yang saya inginkan. Oleh karena itu di situ juga saya berikan solusinya. Kalau diikuti insya Allah defisit APBN bisa dikurangi, rakyat tidak menderita, dan popularitas tetap terjaga. Ini bukan politis. Tapi lebih untuk rakyat Indonesia. Pemerintah juga tahu penderitaan yang akan dialami rakyat dengan kenaikan harga BBM makanya menyiapkan BLT. Lagian Pemilu kemarin ketika SBY melawan Mega saya juga mencoblos SBY.

    Soal revisi?
    Perhitungan di atas berdasarkan perhitungan KKG dan juga informasi dari media massa dan Statistik Energi Resmi milik Pemerintah AS. Jika itu keliru, saya juga bingung merevisinya.

    Tapi blog ini bebas. Dan rekan2 yang tidak sependapat bisa menulis perhitungannya sendiri di sini.

    Dan Milis2 juga bebas ada pro dan kontra. Buat yang kontra, silahkan kirim perhitungan imbangannya ke milis2 tsb.

    Semoga bangsa kita bisa melewati ujian ini dengan damai dan selamat.
    Dengan ini, saya sudahi diskusi ini.

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 137 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: