Tentang iklan-iklan ini

Biaya Sekolah yang Mahal – Uang Buku Rp 1 Juta/Semester

Biaya masuk SD cukup memberatkan bagi orang tua yang penghasilannya pas-pasan. Sebagai contoh anak saya yang masuk SD Swasta dengan level menengah harus membayar uang masuk sekitar Rp 1 juta. Ini ditambah lagi uang buku sebesar Rp 700 ribu/tahun di mana sekolah mendapat komisi 30% dari penerbit buku. Jadi total Rp 1,8 juta lebih dengan uang iuran bulanan Rp 130 ribu.

Kalau di sekolah swasta yang elit tentu lebih mahal lagi. Di SD Negeri ada yang gratis, namun ada informasi yang menyatakan SD Percontohan yang katanya gratis tapi harus bayar uang masuk Rp 500 ribu dan uang buku Rp 400 ribu/tahun. Jadi setahunnya untuk uang masuk dan uang buku Rp 900 ribu. Ini belum biaya lain-lain.

Uang sebesar itu tentu sulit dipenuhi bahkan bagi seorang wajib pajak yang penghasilannya Rp 2 juta/bulan.

Mudah-mudahan KPK bisa memeriksa kebenaran informasi ini karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak.

Pada zaman saya sekolah dulu, orang tua tidak harus beli buku. Sekolah akan meminjamkan buku-buku yang biasanya terbitan Balai pustaka (BUMN). Orang tua cukup membayar uang perpustakaan yang besarnya kurang dari ¼ harga buku.

Itu pun beda dengan buku pelajaran zaman sekarang yang harus ditulisi dengan pulpen sehingga tidak bisa dipinjamkan ke adik kelasnya. Buku-buku pelajaran zaman itu bisa diberikan kepada adik atau saudara yang memerlukan. Sehingga biaya buku benar-benar terjangkau.

Yang membuat sekolah zaman dulu lebih terjangkau adalah jam pelajaran tidak terlalu lama. Untuk kelas 1-3 SD hanya sekitar 2,5 jam pelajaran sehingga dalam satu hari bisa 4 kelas (160 murid) untuk satu ruangan yang sama dengan satu guru. Kelas 4 SD hingga kelas 3 SMP sekitar 5 jam pelajaran sehingga bisa menampung 2 kelas (80 murid) untuk 1 ruangan dan satu guru.

Jam pelajaran tersebut cukup efektif karena menurut beberapa penelitian jam pelajaran yang terlalu panjang justru tidak efektif karena murid-murid hanya dapat fokus 15% saja. 85% pelajaran yang diberikan justru tidak terserap dengan baik.

Sistem Full Day School selain membuat biaya sekolah jadi mahal juga tidak efektif dan bisa membuat murid kelelahan dan frustrasi karena jam belajar yang sangat panjang. Jangankan murid, gurunya saja bisa kelelahan. Banyak sekolah yang menerapkan Sistem Full Day School akhirnya biayanya jadi sangat mahal. Uang masuk saja bisa mencapai Rp 7 juta lebih sementara iuran bulanan lebih dari Rp 300 ribu/bulan.

Sebaiknya jam belajar singkat dan guru menjelaskan point-point penting. Setelah jelas, guru tinggal memberikan Pekerjaan Rumah (PR) yang bisa dikerjakan sendiri oleh si anak, bersama orang tua, atau bersama murid-murid lainnya. Sehingga murid bisa mandiri dan berinteraksi dengan orang tua atau temannya.

Jika Pemerintah mau mempelajari dan menerapkan sistem pendidikan sekitar tahun 1970-an yang harganya lebih terjangkau dan kenakalan muridnya relatif rendah, ini akan lebih baik lagi.

Biaya sekolah harus dibuat terjangkau bagi rakyat Indonesia yang mayoritas masih miskin. Sehingga bisa jadi bangsa yang cerdas dan bebas dari kebodohan dan kemiskinan (minimal tidak bodoh).

Biaya Buku Memberatkan

Orangtua Siswa Harus Keluarkan Biaya hingga Rp 1 Juta Per Semester

Selasa, 15 Juli 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, kompas – Hari pertama sekolah, Senin (14/7), siswa dan orangtua dikejutkan dengan biaya pembelian buku pelajaran yang sangat memberatkan. Biaya yang harus dikeluarkan di beberapa sekolah mencapai Rp 1 juta per semester.

Program buku digital yang dicanangkan pemerintah dengan maksud menekan harga buku kenyataannya belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Selain sulit diunduh dari internet, hampir tidak ada sekolah yang menggunakan buku digital itu. Bahkan, banyak kepala sekolah dan guru yang belum mengetahui adanya buku digital itu.

Di sebuah sekolah menengah di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, misalnya, pada hari pertama masuk sekolah, kertas fotokopi berisi judul buku, penerbit, dan harga buku yang akan dipakai siswa kelas III SMA jurusan IPA tersebut dibagikan kepada siswa.

”Ada 14 buku yang mesti dibeli. Harga semua buku yang dijual di sekolah hampir Rp 1 juta. Siswa yang mau beli pesan ke bagian Tata Usaha,” kata seorang siswa.

Buku-buku teks yang dipakai di sekolah tersebut merupakan keluaran dari penerbit buku ternama yang umum dipakai di sekolah. Tidak ada satu buku pun yang direkomendasikan dari buku digital yang disediakan pemerintah di situs web Depdiknas.

Ny Ellis, warga Ciledug, Kota Tangerang, harus menyediakan sekitar Rp 600.000 pada semester ini untuk biaya buku pelajaran putranya, siswa kelas II sebuah SMA negeri di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

Di Bandung, siswa kelas II SMA negeri disodori daftar buku berikut penerbit dan harga masing-masing buku yang jumlah keseluruhannya mencapai Rp 418.000. ”Tidak bisa dicicil karena tahun ajaran baru sudah dimulai,” ujar orangtua murid.

Di Bekasi, selain dikenai uang masuk sebesar Rp 1,5 juta dan sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP) Rp 150.000 per bulan, siswa baru juga harus segera membeli buku yang harganya di atas Rp 420.000 untuk satu semester.

Di Palembang, Sumatera Selatan, orangtua murid juga mengeluh karena selain harus membayar Rp 4 juta untuk uang gedung, sumbangan pengembangan pendidikan, uang seragam dan orientasi sekolah, anaknya harus membeli buku pelajaran yang harganya mencapai lebih dari Rp 350.000 per semester.

Belum dikenal

Untuk menekan harga buku, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sebenarnya sudah menyiapkan buku digital sebanyak 49 judul di internet. Namun, masih banyak guru dan kepala sekolah yang tidak mengetahui program tersebut.

Seandainya buku teks pelajaran yang dipakai sekolah memanfaatkan buku digital yang telah dibeli hak ciptanya, satu buku teks sesuai harga eceren tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah seharga Rp 20.000. Biaya pembelian buku yang dikeluarkan masyarakat jauh lebih rendah, bisa mencapai 25 persen dari pengeluaran saat ini.

Namun, keberadaan buku teks yang dibeli hak ciptanya oleh pemerintah dan diunggah (upload) di http://bse.depdiknas.go.id, http://www.depdiknas.go.id, http://www.pusbuk.or.id, dan www. sibi.or.id masih belum dapat diunduh dengan cepat. Jika mencetak sendiri, biayanya justru lebih mahal.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/15/00383252/biaya.buku.memberatkan

Tentang iklan-iklan ini

6 Tanggapan

  1. Ikutan kasih komentar nich. Nampaknya Full day school ada juga karena adanya permintaan dari para orang tua yang dua-duanya, ayah dan ibu, yang super sibuk dan tentu saja tidak memiliki waktu pada siang hari untuk mendampingi anak mereka. Tetapi tuntutan ini pada akhirnya mengakibatkan biaya tinggi pada dunia pendidikan kita. Mengenai kembali pada sistem pendidikan masa lalu…. ide tersebut boleh juga tetapi kita tentu harus menapat ke depan, mengambil yang baik pada masa lalu dan memperbaiki yang masih kurang. Salam dari http://www.guswan76.wordpress.com

  2. ga tau nih negara mau dibawa kemana … makin kesini makin edan … pendidikan sekarang udah jadi lahan bisnis … jadi inget acara di metro beberapa waktu, ada yang nelpon cuman pengen bilang: “udah … bubarin aja negara ini” … udah sampe segitunya pesimistis orang kita …

    wacana terus .. solusinya ga ada …

    cheers,
    kanabies.wordpress.com

  3. jadilah anggota parlemen
    aku mendukung anda pa nizami
    anda memiliki banyak misi dan visi strategis nasional
    lebih dari orang kebanyakan

  4. Terima kasih pak Teguh.
    Untuk jadi anggota Parlemen kita harus didukung oleh parpol.
    Jika ada parpol yang meminta saya tidak menolak.
    Tapi jika saya yang harus mendatangi parpol agar jadi anggota parlemen, itu berat bagi saya…:)

    Insya Allah berjuang bisa lewat mana saja.

  5. good info nih
    thx a lot
    http://www.cannizaro.wordpress.com

  6. [...] kalo dihitung hitung biayanya bisa 2 kali lipat dibanding dengan biaya hidup sehari2. Menurut blog infoindonesia: "Biaya masuk SD cukup memberatkan bagi orang tua yang penghasilannya pas-pasan. Sebagai [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 136 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: