Iklan

Transkrip Rekaman Anggodo, Jaksa, dan Pengacara

Di bawah adalah transkrip rekaman Anggodo dengan Jaksa, Pengacara, dan juga seorang Wanita (yang ternyata suka “memijat” di hotel-hotel) dari media massa seperti Kompas dan Vivanews.com.

Di situ disebut bagaimana seorang pejabat tinggi Kejaksaan minta “dipijat” dan juga pencatutan nama RI-1 untuk menangkap pimpinan KPK.

Besar harapan kita berita di media massa ini tidak benar. Jika pun benar, semoga revolusi hukum (sebab reformasi tidak akan berhasil) dapat menyingkirkan Markus (Makelar Kasus) dan juga Mafia Peradilan yang sering membuat yang salah jadi benar dan benar jadi salah.

Transkip Rekaman Menghebohkan itu …

Sidang Mahkamah Konstitusi (MK), Selasa (3/11), yang dimulai pukul 10.00, diawali oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, yang menjelaskan dasar-dasar hukum Mahakamah Konsitusi yang memutuskan pemutaran rekaman pembicaraan dalam sidang pleno untuk umum.

Mahkamah Kosntitusi mengacu kepada ketentuan Pasal 17 UU Kekuasaan Kehakiman dan Pasal 40 UU Mahkamah Konstitusi terkait sifat sidang pengadilan yang terbuka. “Satu alasan lagi mengapa diperdengarkan untuk umum adalah karena bagi Mahkamah Konstitusi, penegakkan dan perlindungan hak asasi manusia lebih tinggi dari segalanya”, ucap Mahfud MD.

Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang dipimpin Mahfud MD, membuat sejarah baru dalam penegakkan hukum di negeri ini. Yaitu memenuhi permohonan uji material Undang-Undang No.30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang diajukan kuasa hukum Wakil Ketua KPK (non aktif) Bibit Samad Rianto dan Chandra M.Hamzah, MK membuka rekaman percakapan Anggodo Widjojo, adik tersangka korupsi Sistem Radio Komunikasi Terpadu di Departemen Kehutanan, Anggoro Widjojo.

Pembukaan dilakukan dalam sidang pengadilan, sehingga MK menyatakan persidangan dibuka untuk umum.

Pencatutan Nama RI-1

(23 Juli 2009)

Anggodo : Haloo ..

Seseorang : Sudah ketemu Truno (Petinggi Polri)?

Anggodo : Sudah tadi malam

Seseorang : Si Murdidin mau?

Anggodo : Ya tetap dong ..

Seseorang : Rencana operasinya kapan?

Anggodo : Pokoknya berkasnya dimasukkan ke tempat Ritonga minggu ini, terus ke sini, terus action

Seseorang : Kalau RI-1 belum?

Anggodo : Sudah-sudah ..

Seseorang : Katanya mau maju ke RI-1 dulu?

Anggodo : Tunggu dulu, aku mau nyocokkan tanggal ..

(24 Juli 2009)

Seseorang : Bagaimana perkembangan Truno 3 (Kabareskrim)?

Anggodo : Ya, masih tetap. Cuma ini BAP-nya dikomplitin.

Seseorang : Dia masih sigap atau sudah lemas? he-he ..

Anggodo : Kencang .. sudah sampai kejaksaan kok ..

Anggodo : Kan sudah ada satu yang dipanggil

Seseorang : Ngaku nggak?

Anggodo : Pasti ngaku tho .. Biar aja, katanya. Pokoknya sekarang berita acaranya lagi dirangkai-rangkai gitu..

Seseorang : He ..em

Anggodo : Hari ini Edi Sumarsono

Seseorang : Kapan menghadap RI-1?

Anggodo : Lha, RI-1 kan suratnya sudah dikirim?

Seseorang : Katanya dia mau menghadap RI-1?

Anggodo : Sudah, sudah menghadap itu, sudah diserahkan. Yang penting sekarang konsentrasi di BAP nya ini dikomplitin gitu loo ..

Seseorang : Iya, tapi ijin RI-1 itu penting. Kalau nggak ada ijin RI-1 nggak berani dia nangkap.

(25 Juli 2009)

Anggodo : Halo ..

Seseorang : Sudah ketemu Truno belum?

Anggodo : Sudah .

Seseorang : Bagaimana perkembangan?

Anggodo : Ya pokoknya BAP sekarang disinkronkan semua

Seseorang : He-eh. Izin dari RI-1 sudah belulm?

Anggodo : Sudah-sudah

Anggodo : Ke tempat Nas, Senin atau Selasa?

Seseorang : Untuk apa?

Anggodo : Ya untuk tanya .. kan tidak bisa menyalahkan kita kalau mau menyalahkan ya Antashari Azhar kan gitu ..

Seseorang : Dep bukan Antasari kalo dari dulu, kenapa mereka nggak selesaikan .. kan?

Anggodo : Ya .. ehm .. ndak yang membuka kasus ini kan Antashari, bukan kita

Seseorang : Kalau dari dulu mereka beresin kita kan nggak akan ngaku ..

Anggodo : Iya ..

(6 Agustus 2009)

Perempuan : Halo .. kok ada pembicaraan soal itu? .. Soal Anggoro?

Seseorang : Ya itu, rencananya yang memakai Antasari dulu .. Terus pencekalan itu diakui tidak sama KPK? ..

Perempuan : Iya, tapi ditandangani siapa. Iya kan, dia tidak jawab, modelnya bajingan semua. Yang .. Chandra Yang ..? Sudah, habiskan saja Yang .. jangan ragu-ragu. Pak Ritonga SMS, rasanya dia besok minta pijat aku.

Seseorang :Deluxe yang sana loh, main di hotel, oh di Penthouse. Kamu mau ke mana Tunjungan, sini loh, Novotel ini loh..

Perempuan : Nanti besok saja ceritanya ya? Jangan di sini. Pokoknya sekarang bilang Anggodo suruh cerita semuanya, ngerti nggak? Karena kalo gak gitu mati sendiri. Ngerti nggak? Sekarang SBY itu mendukung, ngerti? SBY tuh dukung Ritonga loh, ngerti?

Seseorang : Aahh .. , kamu ngarang saja..

Perempuan : Harus dijelaskan situasi. Heh, mengarang bagiamana maksudmu?

Seseorang : Sebenarnya nggak ngomong kamu ngomong .. ngomong apa dia sebenarnya?

Perempuan : Ya udah .. mending ngomong sendirilah .. malas ah, aku ngomong-ngomong dicuekin. Ngomong lebih yang nggak ada untungnya nggak kamu bayar kok, nggak bayari Ritonga juga..

Seseorang : Nah terus?

Perempuan : Sejam aku telpon. Sudah, pokoknya Anggodo ya ngomong seadanya yang betul ngerti? Kalo nggak gitu nanti kita bisa mati. Ini Pak SBY ngerti. Ya sudah itu saja yang dia bilang ..

(6 Agustus 2009)

Seseorang : Halo

Perempuan : Pak. Pak Ritonga telpon, mungkin besok dia minta pijat. Hehe ketawa-ketawa dia. Sudah, sudah, dia bilang pokoknya harus bicara apa adanya semua mengerti?

Seseorang : Siapa?

Perempuan : Pak Ritonga. Pokoknya didukung, jadi nanti KPK ditutup setelah ini. Paham nggak?

Seseorang : Iya-iya

Perempuan : Pokoknya nggak usah kawatir, urusan ini bisa tuntas nanti, dia bilang begitu ..

Seseorang : He-he-he ..

Perempuan : Ya itu loh, siapa polisi itu namanya? Susno?

Seseorang : ha-ha-ha.

Perempuan : Uh .. kemarin Pak Ritonga dianu itu, Pak Ritonga ngamuk soalnya dia janji kan .. kok dia yang nyelewengkan. Nggak berani dia..

Perempuan : Sekarang katanya Anggodo sudah telpon kamu, kamu stres ya Pak, wah hari ini masuk tivi jelas tuh pak?

Seseorang : Ya sudah-ya sudah ..

Perempuan : Eh pak, situ mau pijatan saya nggak?

Seseorang : Hahh?? ..

Perincian Uang Anggoro Oleh Ary Muladi

(23 Juli 2009)

Seseorang ; Halo bos..

Anggodo : Iya bos, sori tadi masuk lift .. ada perintah

Seseorang ; Waktu kapan itu di Singapura itu kan waktu kita meriksa, Pak Anggoro ..

Anggodo : he-he-he ..

Seseorang : Pak Anggodo kan waktu itu diperiksa juga sama Berto.. kita kan bicara masalah pengambilan uang itu loh. Waktu mau nyerahkan yang tiga koma tujuh lima M ..

Anggodo : He-eh ..

Seseorang : Nah, itu kan ngambil dibrankas dalam bentuk rupiah tuh?

Anggodo : Ya, ada yang rupiah, itu kan saya yang ngambil bos ..

Seseorang : Terus dituker ya . to?

Anggodo : Betul ..

Seseorang : Naah .. aku pengin tahu tuh. Mungkin anaknya, kalo menurut saya anaknya yang menukar pasti punya catatan

Anggodo : Begini mas .. saya biasanya bukan berarti dari brankas itu

Seseorang : He-eh?

Anggodo : Langsung beli .. bukan .. jadi mungkin saya udah beli sebelumnya, gitu loh

Seseorang : Katakanlah bapak sebelumnya sudah beli, gitu kan?

Anggodo : Iya

Seseorang : Tapi kan nggak ee… apa … tiga oma lima M bapak udah beli? Tiga koma lima M langsung? Kan enggak?

Angggodo : Itu campur pak!

Seseorang : Lhoh iya, toh itu maksud saya untuk ancer-ancer waktu saja sebetulnya pak, jadi ..

Anggodo : itu tanggalnhya .. Mas Ari itu ..

Seseorang : ya?

Anggodo : Terima dari saya?

Seseorang : He-eh .. Tanggal sepuluh?

Anggodo : Ya! Tanggal itu dia terima uang saya.

Seseorang : Ini sama Pak Ari .. sebentar ini ..

Ari : Halo Mas, apa kabar?

Anggodo : Baik , sedang apa Mas?

Ari : Sedang ngurut-ngurut tanggal hari..

Anggodo : He-he-he ..

Ari : Nah kalau saya mencocokkan ini, mencocokkan penyerahan ..

Anggodo : Pokoknya anda tinggal terima dari saya tanggal itu kan sudah pasti

Ari : He-he.. Anda menerima tanggal saya itu tanggal ..

Anggodo : Anda menerima tanggal saya? Anda menerima saya!

Ari: Iya, he-he .. saya menerima Anda itu sudah ada disini.. He-he-he

Anggodo : Minggu kan bisa saja to Mas? Kamu kan .. mingu-mingu ke tempat saya.

Ari: he he

Anggodo : Iya kan?

Ari : He-he ..Iya-iya hari libur pernah ke tempat Anda..

Anggota ; Di tempat The last lantai kamar nomor satu. Aku kalau minggu ke situ

Terkait Berita Penyidikan (BAP)

Anggodo dengan seorang laki-laki (7 Agustus 2009)

Anggodo : Menurut bosnya Trunojoyo, kalau bisa besok sudah keluar katanya.

NN : Oh .. enggak bisa ..gak bagus, karena pemberitaannya hari Minggu, jadi tidak bagus. Orang lagi libur

NN : Jadi bagusan kita Senin pagi, main kita langsung

Anggodo : Masalahnya gini lho, Truno itu minta itu .. tv di kontak hari supaya besok, anu .. counter, counternya dari Anggoro gitu.

Anggodo dengan seseorang (8 Agustus 2009)

Seseorang : Bang, si Ari itu sudah sesuai kronologis lho, Bang?

Seseorang : Ya sudah kan dia.

Anggodo : Jadi dia sudah di BAP ini jadi dia ya ..OK ..ok kalo gitu, ok. Nanti kita periksa .

Seseorang : jadi dia sudah diperiksa di BAP, BAP dia itu seperti kronologis kita.

Anggodo : Ok kalo gitu, penyidiknya siapa waktu itu, Bang?

Seseorang : Apa?

Anggodo : Penyidiknya?

Seseorang : Fa.. Farman

Seseorang : Iya gak usah nyinggung-nyinggung sudah di BAP, cuman maksud saya Abang menjelaskan soal Ari itu .. itu sdah measa diperas karena menurut Ari itu dia, KPK sudah kasih begini-begini.

Seseorang: Pokoknya .. pokoknya Abang bilang itu Ari sudah di BAP seperti itu, Bang ..

Anggodo dengan Alex (10 Agustus 2009)

Anggodo : Anggoro gak lari .. ya kenceng gak .. de’e ngomonge kuenceng gak?

Alex : Keceng .. kenceng banter kok .. banter ..

Anggodo : Hee ..hemm .. iyo ..yo ..yo .. yo wislah … terus per point-ne tersasar to ..?

Alex ; Sudah .. sudah .. sudah .. tertata

Anggodo : ciamik de’e jelasno ?

Alex : Ini ada satu rekayasa. Nampak rekayasa itu dari mulai pemanggilan dari saksi sampai tersangka, tenggang waktu ini Sembilan bulan .. sudah kodu .. kondusif .. moro-moro karena ada testemoni terus muncul panggilan sebagai tersangka .. dia pertanyakan kepada wartawan ada apa ini? Anda bisa menjawab juga.

Anggodo : Terus mengenai cekal sasarannya salah Yusuf Faisal

Alex : Ya .. dalam kasusnya Yusuf Faisal kok yang dicekal Anggoro itu bagaimana .. ?Penyitaannya pun juga, penggeledahan juga itu kan salah sasaran dalam kasus .. e .. apa .. Yusuf Faisal harusnya ke tempatnya. Yusuf Faisal kok bisa melenceng ke tempat Masaro..

Dari Penyuapan ke Pemerasan

Anggodo dan Alex

Anggodo : Aku sik ning Mabes lagi ngenteni.

Alex : IYa memang dicuplikan. Nggak banyak

Alex : Ya lumayan. Tapi intinya itu kita berkelit bahwa itu bukan penyuapan. Tapi apa eu ..

Anggodo : Pemerasan

Alex ; He’eh .. karena diawali itu .. beritanya dari Antasari dulu, testemoni itu

Anggodo : Hah .. terus

Alex : Ya dikelaskan sama Bonaran bahwa itu bukan .. bukan penyuapan itu .. itu adalah pemerasan, dan eu.. permasalahannya juga di apa si Antasari kedatangan Antasari menemui Anggoro itu membawa konsekuensi Antasari juga bisa di .. di .. di .. apa.. dipermasalahkan gitu loh.

Keterkaitan Susno

Anggodo dengan seseorang (23 Juli 2009)

Seseorang : Mau nanya lagi nih Bos saya. Besok kan saya meriksa si Pak Edi Anggodo : He eh?

Seseorang : Sebenernya eee yang memberi tahu adanya kasus ini tuh Pak Anggodo atau bukan? Ke Pak Edi.

Anggodo : Ke Edi itu … ke Edi itu anu Mas .. dia yang .. dia juga tahu kasus ini gi tu loh Mas..

Seseorang : Ohh ..

Seseorang : Dia kenal, tahunya masalah ini, masalah adanya kasus Anggo.. Pak Anggoro ini dari Pak Anggodo gitu loh.

Anggodo : Ah ngga, sama-sama tahu lah itu, kan sudah .. sudah meledak dulu bos.

Seseorang : Berarti yang minta tolong Pak Anggoro ke pak ini .. Edi dong?

Anggodo dengan seseorang (23 Juli 2009)

Seseorang : Tony harusnya dikelarken.. karna Pak ‘Susno juga sudah tahu, ada.. lha Kosasih juga waktu ketemu terakhir sebelum pulang Surabaya .. dipanggil, juga cerita Pak Susno. Pak Susno juga cerita ke saya.

Anggodo : iya

Seseorang : Enggak .. kema .. Pak EDy itu saya tanya.. Tony itu Anggodo ..ngga .. tak ada .. ee saya di kasih tahu oleh Pak Susno. Kemarin dia dipanggil , kata Eddy dia dipanggil Pak Susno kemarin..

Anggodo : Pak .. Pak Wisnu itu kan percaya saya Pak .. soal Tony kan saya juga ngomong sama Bapak ..

Seseorang : Iya, tapi .. tapi ada Pak Susno katanya waktu di Singapore .. di Anggodo ada tapi ini telpon ke Tony, tapi di Anggoro .. ini, ini kan perlu diclearkan .. saya percaya .. Cuma ya masalahlnya ini kenapa mesti di debatkan begini, gitu lho…

Anggodo : Bukan Pak .. yang saya mau itu ..

Seseorang : He eh ..

Anggodo : Adalah siapa mementahken nyerahkan Chandra yang Bapak juga tahu kan?

Seseorang ; Iya

Anggodo : Karena kalau nggak ada yang perintahken Chandra . Pak .. gak gathuk itu uang itu…

Anggodo : Saya bukan saksi Pak ..

Seseorang : Saya yang penyandang dana kan..

Seseorang : Lhah iya. Kenapa dana ini dikeluarkan, karna saya di suruh Edy, kan sama aja kan..

Anggodo : Iya

Seseorang ; Ha ha ha h a ha .. (tertawa)

Anggodo : Yo suruh ngaku lah. Pak . . kalo .. kalo koncoan kayak gini yo percuma nduwe konco ..

Seseorang : Saya juga bolak-balik pressing .. lha kenapa you bohong?

Angggodo :Karena di suruh Ari …. Ini di- ini gitu lho ..

Seseorang : Ini tadi itu jauga saya interogasi, langsung saya telpon ke Kosasih .

Anggodo : He-eh

Seseorang ; Depannya Susno .. karena ada bukti pendukung lain pasti .. saya bilang gitu ….

Anggodo : Sus .. Sunsno itu dar … dari awal Pak .. berangkat sama saya ke Singapore

Seseorang ; He eh ..

Anggodo : Itu dia sudah tahu .. Tony itu saya .. sudah ngerti Pak

Seseorang : He eh … saya ndak ngerti juga sih ..

Anggodo : Yang penting dia ga usah masalahin Susno .. itu kan urusan penyidik Pak.

Seseorang : Iya ..

Anggodo : Yang penting dia ngakuin itu .. bahwa dia … yang merintahkan untuk ngasih Chandra ..

Menyusun Laporan

(25 Juli 2009)

Anggodo : Halo .

Seseorang : Komandan, lagi istirahat?

Anggodo : Lagi mbikin kronologis .. d kantor Masaro

Seseorang : Oo di Masaro .. he he he … Belum selesai dari kemarin?

Anggodo : Baru tadi siang mulai, semalam kan baru sama. Rekamannya sudah dapat semua? Dari Simpati?

Seseorang : Belum .. belum juga . masih diolah, cari datanya cukup lama. Nanti aku mau coba ke tadi malam ketemu Pak Carlo Cuma sebentar

Anggodo : eh .. eh.. eh

Seseorang : Yang belakangan aja kan sudah cukup

Anggodo :I7ya, nanti aku obrolin lagi. Terus kalau dari Bang Farman bagaimana?

Seseorang : Bang Farman belum contact lagi, selain itu kan hap-nya Edi bisa dibuka, Bang .. Kan dia ada bicara sama Chandra.

Anggodo : Ya .. ya .. ya oke nanti ini. Tapi off the record aja dulu ya . .. Oke komandan, ada perintah lanjut?

Seseorang : Belum bang, tak selesaikan dulu ini ya.

(26 Juli 2009)

Anggodo : Apa Bert?

Seseorang : halo Pa .. ini dari halaman 8 ke halaman 9 nyambung Pa ..

Anggodo : Itu kan coba, 8 itu terakhirnya apa?

Seseorang : Bapak Ade

Angggodo ; Ade .. Raharjanya di mana?

Seseorang : Di halaman 9

Anggodo : Halaman 9 yang di Papa tuh langsung Anggoro Cs

Seseorang : Hamm .. oke .. oke … mungkin kemarin itu, waktu halaman 8 Papa punya itu diganti ya, mungkin …

Anggodo : Gak, sekarang yang lu punya aja .. Kan yang di Papa itu kamerin tinggal lu kasih Lastler

Seseorang : Hmm, gak gini .. mungkin punya Papa kemarin ini halamannya diganti..

Anggodo : Ya sekarang lu lihat yang lu punya itu apa? Halaman 9 bunyinya apa?

Seseorang : Raharja segera menyelesaikan janjinya

Anggodo ; Terus?

Seseorang ; Yakni satu : pencabutan cekal atas Angoro Cs empat orang

Anggodo : Lha iya , kok bisa selisih banyak .. coba halaman belakangnya terakhirnya cua Ade

Seseorang : Ya

Anggodo : Terus halaman 9-nya apa? RAharja apa? Bacain..

Seseorang : Raharja segera menyelesaikan janjinhya, yakni satu pencabutan cekal atas dibawahnya Anggoro cs 4 orang

Anggodo : Lha itu enggak ada yang sebaris itu. Berarti yang ke Nefo bagaimana?

Seseorang : Yang ke Nefo itu kan e-mail Pa, kita enggak nge-print. Kemarin kita punya yang halaman 4 dan 8 kan?

Anggodo : Tambah ruwet lu. Ngomong sama lu tambah ruwet, bingung Papa

Seseorang :Kemarin kan ditambahin sesuai tanda terima

Anggodo : Yang penting tadi pagi .. udah jangan ngomong kemarin, cocokin sama lu, setelah lu stabile. Tinggal apa?

Seseorang : Ini yang Robert pegang di sini. Ini nih Robert print ulang semua baru..

(Sumber : Kompas, 4/11/2009)

http://www.eramuslim.com/berita/nasional/transkip-rekaman-menghebohkan-itu.htm

Inilah Transkrip Rekaman yang Menghebohkan Itu

Selasa, 27 Oktober 2009 | 09:41 WIB

KOMPAS.com — Soal rekaman yang diduga sebagai pangkal rekayasa kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi sampai saat ini masih terus menjadi perbincangan. Pembicaraan diduga dilakukan oleh petinggi di Kejaksaan Agung, Wisnu Baroto, dan Anggodo Widjaja, adik tersangka korupsi Anggoro Widjaja.

Berikut transkrip rekaman tersebut seperti dimuat di Kompas edisi cetak, Selasa (27/10).

Wisnu ke Anggodo (23 Juli 2009:12.15)

“Bagaimana perkembangannya.”

“Ya, masih tetap nambahin BAP, ini saya masih di Mabes.”

“Pokoknya berkasnya ini kelihatannya dimasukkan ke tempatnya R (nama salah satu pucuk pimpinan kejaksaan), minggu ini, terus bali ke sini, terus action,”

Anggoro ke Anggodo (24 Juli 2009:12.25)

“Yo pokoke saiki berita acarane dikompliti.”

“Wis gandeng karo Ritonga kok de’e.”

“Janji ambek Ritonga, final gelar iku sama kejaksaan lagi, trakhir Senen.”

“…Sambil ngenteni surate RI-1 thok nek?”

“Lha kon takok’o Truno, tho.”

“Yo mengko bengi, ngko bengi dek’e.”

Anggodo ke Wisnu (30 Juli 2009:19.13)

“Pak tadi jadi ketemu?”

“Udah, akhirnya Kosasih yang tau persis teknis di sana. Suruh dikompromikan di sana, Kosasih juga sudah ketemu Pak Susno, dia juga ketemu Pak Susno lagi si Edi. Yang penting kalo dia tidak mengaku susah kita.”

“Yang saya penting, dia menyatakan waktu itu supaya membayar Chandra atas perintah Antasari.”

“Nah itu.”

“Bukan Pak, dia memerintahkan nyerahken ke Chandra yang Bapak juga tahu kan karena kalo ga ada yang memerintah Chandra Pak, enggak nyambung uang itu Iho.”

“Memang keseluruhan tetap keterangan itu, kalau Edi nggak ngaku ya biarin, yang penting Ari sama Anggodo kan cerita itu.”

“Kan saksinya kurang satu.”

“Saksinya akan sudah 2, Ari sama Anggodo.”

“Saya bukan saksi, saya kan penyandang dana kan.”

“Kenapa dana itu dikeluarkan karena saya disuruh si Edi kan, sama saja kan, ha-ha-ha….”

“Suruh dia ngakulah Pak, kalau temanan kayak gini, ya percuma punya teman.”

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/27/09415150/inilah.transkrip.rekaman.yang.menghebohkan.itu

Anggodo Mengaku Sering Berkomunikasi dengan Ritonga

KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO

Jumat, 30 Oktober 2009 | 13:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Anggodo Widjojo, adik Direktur PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo, mengaku kenal dengan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga. Ia menyebut Ritonga sebagai teman.

Anggodo yang dicegat wartawan usai melapor soal rekaman KPk yang dianggapnya menyudutkan dirinya di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Jumat (30/10) mengatakan, sebagai teman adalah wajar jika saling berkomunikasi.

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/10/30/13482440/anggodo.mengaku.sering.berkomunikasi.dengan.ritonga

Pengacara Anggodo: Transkrip Rekaman Benar

KOMPAS.com/LAKSONO HARI WIWOHO

Jumat, 30 Oktober 2009 | 17:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Bonaran Situmeang, pengacara Anggodo Widjojo, membenarkan isi transkrip rekaman pembicaraan yang telah beredar di masyarakat. Namun, substansi transkrip tersebut tidak sepenuhnya utuh.

“Ada yang benar, tapi tidak sempurna. Saya memang bicara dengan Pak Anggodo dan Pak Wisnu. Sudah diakui benar. Pak Anggodo sudah baca transkrip. Memang benar Pak Anggodo bertelepon,” ucapnya di Mabes Polri Jakarta, Jumat (30/10).

Ketika ditanya bagian mana yang tidak sempurna dari transkrip rekaman yang beredar, ia mengatakan, saat dituliskan RI-1. Menurutnya, ada bagian yang terpotong sebelum pembicaraan mengenai RI-1. “Ada yang dipotong-potong. Tiba-tiba ada penyebutan RI-1. Apa sambungannya?” kata dia.

Bonaran menambahkan, saat itu ia berbicara dengan Anggodo mengenai rencana membuat surat perlindungan hukum kepada Presiden. “Waktu itu ditanya bagaimana dengan RI-1? Oh, belum,” jelas dia.

Lalu pada tanggal 12 Agustus 2009, kata dia, surat permohonan perlindungan hukum dikirimkan kepada Presiden.

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/30/17083635/pengacara.anggodo.transkrip.rekaman.benar

Transkrip Rekaman Anggodo-Bonaran

“Susno Pesan Eddy Sumarsono Masuk Kronologi”

Di kronologi, Eddy dimasukkan berperan sebagai orang suruhan KPK.

Rabu, 4 November 2009, 11:03 WIB

Heri Susanto, Ita Lismawati F. Malau

Anggodo Widjojo (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

Rekaman Pembicaraan Anggodo – Bonaran

VIVAnews – Dugaan rekayasa kriminalisasi Komisi Pemberantas Korupsi semakin jelas terungkap dari hasil rekaman yang diputar di sidang Mahkamah Konstitusi di Jakarta, Rabu, 4 November 2009.

Salah satunya adalah rekaman percakapan melalui telepon antara Anggodo Widjojo dengan pengacaranya, Bonaran Situmeang. Percakapan ini terjadi pada tanggal 8 Agustus 2009, pukul 22.59.03 WIB dan berlangsung selama 2 menit 50 detik.

Dalam rekaman itu terungkap pesan agar nama Eddy Sumarsono dimasukkan dalam kronologi pemerasan oleh KPK. Di kronologi, Eddy disebutkan berperan sebagai orang suruhan KPK. Padahal, di KPK tidak ada pegawai yang bernama Eddy Sumarsono.

Eddy berperan seperti Ary Muladi. Namun, Ary sebagai penghubung bos PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo untuk menyuap oknum KPK. Sedangkan, Eddy sebagai penghubung dari pihak KPK.

Nama Ary mencuat dalam testimoni Antasari Azhar, yang dibuat 16 Mei 2009 itu yang mengaku telah menemui Anggoro Widjojo yang berstatus cekal di Singapura. Anggoro menyebutkan orang yang menjadi eksekutor suap adalah Ary Muladi dan Toni.

Setelah pengakuan testimoni itu, Anggoro melalui pengacaranya Bonaran Situmeang malah melaporkan Ary Muladi dan orang dekat Antasari Azhar, Eddy Sumarsono ke polisi karena dugaan pemerasan. Bonaran menyatakan Eddy dan Ary memeras Anggoro sebesar Rp 5,1 miliar.

Berikut ini detail rekaman antara Anggodo Widjojo dan Bonaran Situmeang mengapa Eddy Sumarsono kemudian sengaja dimunculkan sebagai salah satu orang suruhan KPK.

08161686311: Helo bang. Bang, abang ini minta bagaimana nama Eddy Sumarsono itu di kronologis saja.

085716595553: Nggak, harus disebut, Pak Susno pesan.

6311: Atau abang mau bicara sama Pak Asma ya.

5553: He’eh

6311: Halo pak, malem pak.

5553: Assalamualaikum.

6311: Waalaikumsalam, pak, malam pak.

5553: Sorry ganggu, sorry.

6311: Iya gak papa, gak papa, pak.

5553: Itu tadi pak Susno saya telepon.

6311: Iya …

5553: Pak Susno, karena kronologis kita sudah diterima Pak Susno itu.

6311: Iya …

5553: Ada Eddy Sumarsono, Eddy Sumarsono disebutkan juga katanya.

6311: Iya bener pak, di sini kan.

5553: He’eh.

6311: He’eh, kita kan berdasarkan barang bukti ini kan sementara si Ari ini pak, di kronologis saya masukin, cuman di tanda sebagai, sebagai terlapor, kita sementara masukin si Ari pak, nanti kita tetap masukin si Eddy Sumarsono, nanti berkembang pak, berkembang dalam penyelidikan.

5553: bukan bang, soalnya di partai ini ada dua memang, Eddy Sumarsono dan …

6311: Itu tadi pak Susno saya telepon.

6311: Ari Muladi

5553: Ari Muladi

6311: Hmmmm

5553: Abang sebutin aja bang, kan gak salah ini

6311: Peranannya peran sih Eddy Sumarsono?

5553: Utusan

6311: Sama juga dengan seperti Ari.

5553: Iya utusannya KPK.

6311: Iya cuma kan lain lain kubunya bang.

5553: Lain

6311: Kayak si Ari kan kubunya di ini, Bibit, kalo si Eddy Sumarsono kan kubunya Antasari, kayak gitu bang.

5553: Antasari sama Chandra, bang.

6311: Sama Chandra …, kubunya kan?

5553: Iya

6311: Cuma bukti untuk si Eddy ini apa kira-kira bang ya?

5553: E … kan ada saksinya bang

6311: Iya, saksi

5553: He’eh

6311: Saksi ini kan, dia kan perbuatan tidak menyenangkan nih, si Edy kan

5553: eeee…

6311: Iya kan

5553: Bukan tidak menyenangkan bang (back sound male). Kalo itu pemerasan juga.

6311: Pemerasan juga? pemerasan juga.

5553: He’eh, pemerasan.

6311: ee iya, iya.

5553: Nggak apa-apa bang

6311: Iya coba, nanti saya usahakan dulu pak ya.

5553: Soalnya … hee

6311: Saya buat kronologi supaya dia bisa masuk pak ya.

5553: He’eh. Yang penting tadi Eddy Sumarsono harus disebut.

6311: Ya, ya.

5553: Karena dua ini posisinya sama.

6311: Oh ya udah. Ok, nanti saya masukin kronologi supaya Eddy bisa masuk pak ya.

5553: Ya, tapi Pak Susno telpon bang.

6311: o ya ya, bang ya.

5553: Nggak, pak Susno telpon gak tadi?

6311: Nggak, nggak.

5553: Katanya ngirim ajudan katanya

6311: Belum, belum datang

5553: Belum ya, nanti

6311: Iya

5553: Aku sebentar sampai kok bang

6311: oh iya, nanti saya tunggu lah.

5553: Yuk

6311: Siap bang, Ok

5553: Itu masukin aja bang, udah pasti kok.

6311: oke, oke, oke

5553: Yuuk

6311: Iya yuk bang, Ok

• VIVAnews

http://korupsi.vivanews.com/news/read/102539-_susno_pesan_eddy_sumarsono_masuk_kronologi_

Download MP3 Transkrip Rekaman Pembicaraan Anggodo

http://kangboed.wordpress.com/2009/11/06/download-mp3-transkrip-rekaman-pembicaraan-anggodo/

Transkrip Rekaman Skenario Kriminalisasi KPK

http://news.okezone.com/read/2009/10/26/339/269271/berikut-transkrip-rekaman-skenario-kriminalisasi-kpk

Iklan

2 Tanggapan

  1. memang mengerikan….Sepertinya aktifitas para petinggi hukum di Negara ini sangat mengerikan…
    saran:
    -Tidakan POLRI menangkap 2 Pejabat KPK (bibit/candra) terkesan “memaksa” ,disebabkan ada nya miss link pd bukti yg ada.
    -Tindakan POLRI mengabaikan pengakuan saksi tentang keberada’an Yulianto adalah Pelanggaran HAM sekaligus menunjukkan tidak Frofessional nya POLRI

  2. Hukum mati koruptor!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: