Iklan

Mati Karena Kemiskinan? Enam Bersaudara Meninggal Akibat Tiwul

Tak lama setelah Menko Perekonomian Hatta Radjasa dan SBY gembar-gembor soal laju perekonomian Indonesia yang 6% dan jumlah kemiskinan yang berkurang jadi tinggal 31 juta, 6 bersaudara tewas akibat keracunan makan Tiwul.

Mereka makan Tiwul karena sudah tak mampu lagi beli nasi mengingat penghasilannya yang cuma Rp 150-200 ribu per minggu itu cuma bertahan 3-4 hari saja.

Dengan Garis Kemiskinan BPS yang cuma US$ 0,75/orang/hari (sementara Filipina US$ 1,5 dan Bank Dunia US$ 2), Pemerintah memang sedang menipu dirinya sendiri, rakyat, dan dunia. Jumlah orang miskin jadi cuma 31 juta. Padahal jika ditetapkan US$ 2/orang/hari, bisa jadi 120 juta lebih yang miskin…

Diduga Keracunan
Enam Bersaudara Meninggal Akibat Tiwul
Senin, 3 Januari 2011 | 15:17 WIB
SRIWIJAYA POST/SYAHRUL HIDAYAT

JEPARA, KOMPAS.com – Enam orang bersaudara dari Desa Jebol, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, meninggal dunia diduga akibat keracunan makanan tiwul yang terbuat dari bahan ketela pohon.

Orangtua korban, Jamhamid (45), di Jepara, Senin (3/1/2011), membenarkan, keenam korban meninggal yang diduga akibat mengonsumsi tiwul tersebut merupakan anaknya dari tujuh orang bersaudara.

“Awalnya, yang meninggal dua orang, yakni Lutfiana (22) dan Abdul Amin (3) di Rumah Sakit Umum Daerah Kartini Jepara, masing-masing meninggal pada Sabtu (1/1/2011) pagi dan Sabtu malam,” ujarnya.

Korban Lutfiana yang merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara dimakamkan Sabtu siang, sedangkan jenazah Abdul Amin dimakamkan Minggu (2/1/2011). Pemakaman pada hari yang sama juga dilakukan untuk korban Ahmad Kusrianto (5) anak nomor enam dan Ahmad Hisyam Ali (13) anak nomor empat.

Sedangkan anak nomor lima dan tiga, yakni Saidatul Kusniah (8) dan Faridatul Solihah (15) yang meninggal Senin dini hari dimakamkan pada hari ini sekitar pukul 11.00 WIB. Dia mengakui, keluarganya mulai mengonsumsi tiwul sebagai makanan alternatif sejak dua pekan terakhir, mengingat penghasilannya sebagai penjahit di Semarang kurang mencukupi kebutuhan keluarga.

“Setiap pekan, penghasilan saya hanya berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 200.000,” ujarnya.

Penghasilan selama sepekan tersebut, kata dia, hanya bertahan selama tiga hingga empat hari saja. “Terkadang, kami hanya bisa membeli beras 10 kilogram dari biasanya bisa membeli hingga 16 kg untuk memenuhi kebutuhan delapan anggota keluarga,” ujarnya.

Untuk itu, kata dia, sejak dua pekan terakhir terpaksa harus mengonsumsi makanan alternatif, berupa tiwul yang biasa disediakan oleh istrinya Siti Sunayah (41). Kini, keluarga pasangan Jamhamid dan Siti Sunayah tinggal satu orang yang hidup bersama suaminya.

Siti Sunayah mengungkapkan, keluarganya mulai mengonsumsi tiwul sejak dua pekan terakhir, karena kondisi keuangan keluarga yang kurang mencukupi. “Makanan ini hanya bersifat sebagai selingan dari menu makanan utama,” ujarnya.

Makanan tersebut, kata dia, terbuat dari sari ketela pohon, dicampur dengan bahan lain, seperti pemanis buatan, gula aren, dan kelapa parut.

Awalnya, kata dia, anaknya yang bernama Lutfiana mengeluh pusing, kemudian minta dikerok. “Setelah itu, mengalami muntah berulang kali,” ujarnya.

Dia mengaku, tidak mengetahui anaknya itu mengalami keracunan. “Hal ini, juga diperkuat dengan pernyataan mantri setempat yang menganggap gejala tersebut hanya penyakit biasa,” ujarnya.

Hanya saja, kata dia, selang beberapa jam kemudian, anaknya harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. “Saya memang sempat mengonsumsi sedikit, sedangkan suami tidak ikut mengonsumsi karena berada di Semarang,” ujarnya.

Kapolres Jepara AKBP Ruslan Ependi melalui Kasat Reskrim AKP Rismanto mengungkapkan, kasus dugaan keracunan makanan yang mengakibatkan korban jiwa tersebut masih dalam proses penyelidikan polisi.

“Saat ini, kami masih menunggu hasil pemeriksaan sampel sisa makanan, ketela pohon yang masih tersisa, dan muntahan korban di laboratorium Polda Jateng,” ujarnya.
http://regional.kompas.com/read/2011/01/03/15173541/Enam.Bersaudara.Meninggal.Akibat.Tiwul

Iklan

2 Tanggapan

  1. sebagai anak tulen Jepara saya turut berduka cita atas meninggalnya mereka. dan saya mengingatkan kepada seluruh warga Indonesia, umumnya, dan warga Jepara, khususnya untuk memperhatikan masalah sosial yang memprihatinkan. bagi orang yang berkecukupan, saya himbau, jangan hanya duduk-duduk enak di bangku dan menikmati kekayaan yang ada. tapi, jadilah orang yang peduli akan nasib orang-orang yang tertindas.

  2. Dari Admin:
    Tanggapan langsung diberikan di bawah komentar.

    Sugeng:
    Pertumbuhan Ekonomi secara makro tidak bisa dihubungkan dengan kejadian “kematian gara-gara makan tiwul”. Kita juga jangan terprovokasi oleh berita yg berbau politis.

    Kita jangan mudah terjebak oleh berbagai macam kesimpulan yang menyesatkan hanya untuk kepentingan diri sendiri.

    Jawab:
    Ini sekedar menginformasikan kepada pemerintah agar pemerintah tidak tertipu akan berkembangnya ekonomi “Makro” sebesar 6% dan “berkurangnya” jumlah kemiskinan. Ternyata tak lama setelah pemerintah mengumumkan itu satu demi satu rakyat mati karena kelaparan.
    Inflasi 2010 menurut BPS sekitar 7%. Sementara kenaikan gaji buruh kurang dari 3,9%. Artinya rakyat tambah miskin 3%. Kemajuan ekonomi “Makro” yang 6% dibanding dengan inflasi 7% itu artinya ekonomi “Makro” mengerkut 1%.
    Jika dibanding dengan inflasi riel rupiah terhadap emas dan perak yang sekitar 20%, maka rakyat bertambah miskin 16%!
    Garis Kemiskinan versi BPS yang sekitar Rp 6.900/orang/hari juga sangat tidak layak. Dengan angka segitu, orang yang penghasilannya Rp 7000/hari sudah dianggap kaya oleh pemerintah. Padahal untuk makan 2x saja tidak cukup. Belum buat bayar transport yang Rp 4.000 pp, biaya sekolah, beli baju, kontrak rumah, dsb.

    Sugeng:
    Coba kita teliti lebih seksama : Makanan tersebut, terbuat dari sari ketela pohon, dicampur dengan bahan lain, seperti pemanis buatan, gula aren, dan kelapa parut. Itu bisa dijadikan alternatif makanan pokok. Kita sudah hrs memikirkan hal itu untuk mengantisipasi kelangkaan beras nanti, ingat sawah sudah semakin sempit. Kita jangan dimanja dengan kebiasaan makan nasi.

    Jawab:
    Karena tak mampu beli beras, mereka akhirnya makan ketela pohon yang mengandung racun jika tidak hati2 memasaknya.
    Rakyat kita dari dulu memang makan nasi. Kalau ekonomi kita maju, kenapa rakyat kita dilarang makan nasi?
    Jika makan nasi saja rakyat sudah dianggap manja, bagaimana dengan para pejabat yang ingin gedung Rp 1,3 trilyun, mobil Crown Rp 1 milyar lebih, atau pesawat presiden Rp 700 milyar lebih?
    Jangan rakyat selalu diinjak sementara pejabat hidup mewah.

    Tanah Indonesia itu luas. Ada sekitar 200 juta hektar. Jika sawah 100 juta hektar saja dan 1 hektar menghasilkan 600 kg beras, sudah ada 60 milyar kg beras yang dihasilkan. Jika setiap orang makan 1/3 kg beras per hari, itu cukup memberi makan 547 juta orang!

    Jadi tanah di Indonesia cukup luas untuk ditanami padi. Namun bukannya dipakai untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia, justru dikuasai pengusaha besar HPH dan Kelapa Sawit untuk ekspor Pulp dan Kelapa Sawit ke seluruh dunia.
    Silahkan baca:
    https://infoindonesia.wordpress.com/2008/01/15/cara-solusi-mengatasi-kemiskinan-di-indonesia/

    Sugeng:
    Orang Eropa banyak mayoritas makan gandum, sy waktu kecil malu kalau hrs makan gandum (gondem-bhs cirebonnya)takut dibilang miskin, nah sedangkan kita tahu bahwa bahan itu mengandung banyak vitamin dan protein serta karbohidrat yang baik.

    Jawab:
    Orang Eropa dari dulu memang makan gandum. Bukan nasi.
    Di Indonesia gandum itu jarang. Harus impor. Jadi keliru menyuruh bangsa Indonesia harus makan gandum.

    Sugeng:
    Kelaparan akibat kemiskinan, yang harus kita lihat pertama adalah bagaimana tingkat pengetahuan dan pendidikan suatu keluarga. Jangan sampai sdh tahu orang itu miskin dan tak berpendidikan, kita sebagai tetangga cuek, pak rt cuek, pak rw cuek, camat cuek, bupati cuek, gubernur cuek….. jangan selalu terhubung dengan presiden nun jauh disana…. sedikit-sedikit…dihubungkan dengan politis… nah kita sendiri dulu yang hrs bertanya sudahkah kita PEDULI terhadap sesama?

    Jawab:
    Presiden memaksa rakyatnya bayar pajak. Sehingga terkumpul lebih dari Rp 600 trilyun dari pajak. Jumlah APBN lebih dari Rp 1.000 trilyun. Presiden ini memimpin Gubernur, Bupati, Walikota, RW, RT, dsb. Jadi kalau presiden tidak mau bertanggung-jawab atas nasib rakyatnya, menyedihkan.

    Lihat bagaimana Khalifah Umar ra berkeliling kampung secara diam-diam untuk mengetahui nasib rakyatnya. Saat ada rakyatnya yang kelaparan, Umar tidak menyalahkan tetangga atau pun RW si miskin. Tapi mengangkat sendiri karung makanan dari gudang Baitul Mal ke rumah rakyatnya yang kelaparan. Saat asistennya menawarkan untuk mengangkut, Umar menolak. “Apa kamu bisa menggantikan siksaku di akhirat nanti?”, tanya Umar.

    Itulah sikap seorang pemimpin sejati. Bertanggung-jawab. Tidak menyalahkan orang lain. Dalam militer ada istilah tidak ada prajurit yang salah. Karena mereka cuma melaksanakan perintah atasan. Yang ada adalah komandan yang salah.

    Sugeng:
    Memang jika dilihat dari prosentase makan angka prosentase orang miskin menurun tp dilihat dari jumlahnya pasti meningkat sbb jumlah penduduknya juga meningkat. Belum lg dilihat dari kwalitas orang miskin sekarang ada yang miskin beneran ada juga yang jadi-jadian. Kalo ada pendataan untuk penerima JPS orang berbondong2 ngaku orang miskin, tp kalo di Fesbuk pada ngaku orang kaya…

    Jawab:
    Dari Garis Kemiskinan BPS yang Rp 7.000/hari sudah dianggap kaya itu kita sudah tahu bahwa Garis Kemiskinan BPS lah yang harus diperbaiki. Jika tidak akan makin banyak kejahatan, orang mati kelaparan atau bunuh diri karena kemiskinan.
    Garis Kemiskinan versi Bank Dunia US$ 2/orang/hari atau Rp 18 ribu lebih/hari. Negara2 tetangga sekitar US$ 2-2,5/orang/hari. Nah perbaikilah Garis Kemiskinan versi BPS agar lebih masuk akal.

    Kita lihat banyak pembantu/office boy punya HP yg bisa FB, tapi apa itu berarti mereka kaya?

    Sugeng:
    Terimakasih numpang komentar….Blognya Bagus padat berisi…Boleh blajar ga?

    Jawab:
    Silahkan. Ini cuma standar WordPress.
    Yang penting adalah isi. Isi yang baik adalah berasal dari hati yang tulus lillahi ta’ala dan benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: