Iklan

Hutan Kota Sebagai Paru-paru Kota dan Tempat Rekreasi

Bayangkan jika satu kota hanya terdiri dari hutan beton dan aspal yang dikerumuni dengan jutaan kendaraan bermotor. Air hujan tak bisa menyerap. Sehingga banjir/tergenang di musim hujan dan segera terbuang ke laut. Sementara musim kemarau, air tanah kering.

Asap dari jutaan kendaraan pun meracuni udara kota. Membuat jutaan penduduknya keracunan seperti di kamar gas raksasa. Jakarta merupakan ibukota dengan udara terkotor ke 3 di dunia setelah Mexico City dan Bangkok.

Riset yang dilakukan ilmuwan NIEHS (The National Institute of Environmental Health Sciences) menunjukkan bahwa polusi udara dalam waktu yang lama akan meningkatkan resiko berbagai penyakit pernafasan seperti alergi, asma, penyakit paru-paru, dan kanker paru-paru. Anak-anak dan orang tua sangat rentan terhadap ozone dan berbagai racun udara lainnya.

Untuk itu, perlu adanya hutan kota yang menyediakan oksigen bagi kota tersebut dan juga sebagai tempat resapan bagi air hujan.

Selain itu, warga juga bisa berekreasi dengan anak-anaknya menikmati keindahan alam di tengah kota.

Foto-foto di atas adalah Hutan Kota New York, Central Park, yang terletak di tengah kota. Ukurannya sekitar 4.100 meter x 860 meter.

Kota Seattle di AS membangun Hutan Kota yang bisa dimakan buah2annya (Massive Edible Forest) seluas 28.000m2. Hutan tersebut diisi dengan pohon Apel, Pir, Kesemek, Blueberry, Chestnut, dsb. Sehingga warga, pengunjung, manusia, dan makhluk lainnya bisa memakan makanan secara gratis. Hutan ini letaknya hanya 4 km dari pusat kota Seattle.

Di bawah adalah Hutan Kota, Kebun Raya Bogor, yang dibangun oleh Raffles. Kalau tidak dijajah Raffles, bisa jadi Kebun Raya Bogor tidak pernah ada. Cuma jadi hutan beton belaka.

Danau di Kebun Raya Bogor:

Luas hutan kota tersebut adalah ratusan hektar.

Lalu bagaimana dengan Hutan Kota di Jakarta?

Sebetulnya ada beberapa tempat yang bisa jadi Hutan Kota di Jakarta. Di antaranya: Bekas Bandara Kemayoran, Lapangan Monas, dan Senayan. Sayangnya tanah di sana sedikit-demi sedikit diambil oleh para pengusaha sehingga berubah jadi apartemen, hotel, dan Mal.

Peta Kebun Raya Bogor (sekitar 1 km2) di tengah kota Bogor:

Ini adalah Hutan Kota London, Ontario, Kanada. Udara segar dan bersih mengalir dari hutan kota yang begitu luas:

Yang patut diperhatikan juga adalah pepohonan di pinggir jalan. Dulu di pinggir jalan Raya Bogor amat rindang. Sehingga pengendara mobil tidak kepanasan karena dinaungi oleh bayangan pohon-pohon Mahoni di kiri kanan jalan. Sayangnya sekarang pohon-pohon Mahoni tersebut banyak ditebang sehingga Jalan Raya Bogor sekarang jadi panas dan gersang.

Jalan By Pass, Jalan MT Haryono, Gatot Soebroto, Thamrin, dan Sudirman juga amat rindang. Pohon yang dipilih juga bukan sembarangan seperti pohon Angsana yang rapuh dan gampang rubuh itu. Tapi pohon yang kuat seperti pohon Mahoni, pohon Asem, dan sebagainya. Sekarang banyak jalan yang tidak ada pepohonannya di sisi jalan sehingga para pengemudi jadi kepanasan.

Kebijakan 1 rumah 1 pohon yang tingginya minimal 3 meter juga patut diterapkan. Jika perlu ditentukan jenis pohonnya misalnya: pohon mangga, rambutan, jambu, belimbing wuluh, belimbing, dsb.

Langkah-langkah penghijauan:

1. Ambil Pohon

2. Tanam dan Rawat

3. Rekrut Relawan

4. Adakan kegiatan-kegiatan

5. Sumbang sekarang

Referensi:

http://septiaji-fajar-riyanto.blogspot.com/2012/03/kebun-raya-bogor-atau-kebun-botani.html

http://macaulay.cuny.edu/eportfolios/groupd/samantha-riddell/

http://infowisataku.com/place/obyek-wisata-puncak-kebun-raya-bogor-dengan-15-000-jenis-tumbuhan-dan-pohon-di-dalamnya

http://www.ourcityforest.org

http://en.wikipedia.org/wiki/File:London,_Ontario,_Canada-_The_Forest_City_from_above.jpg

http://news.cheapflights.co.uk/new-york-city-in-pictures-the-landmarks

http://www.indosiar.com/fokus/jakarta-kota-terkotor-no-3-di-dunia_27433.html

http://www.niehs.nih.gov/about/congress/impacts/respiratory

http://blognyawongbojong.blogspot.com/2009/07/jalan-raya-bogor-sepenggal-kisah-masa.html

Seattle Building Massive Edible Forest Filled with Free Food

February 28th, 2012 – Jill Ettinger

Taking the urban garden to the next level, Seattle, Washington has officially broken ground on a dedicated seven acre area of city land set to be converted into an “edible forest” that will produce free food for the city’s residents and visitors, human or otherwise.

According to the Beacon Food Forest’s website, the project’s mission is “to design, plant and grow an edible urban forest garden that inspires our community to gather together, grow our own food and rehabilitate our local ecosystem.” The perennial permaculture forest project, believed to be the first of its kind in the U.S., will eventually be self-sustaining, much like the way a forest in nature works. Creating the self-sustaining environment is reliant upon the types of soil, insect life and companion plants placed strategically within the environment.

Seattle’s Beacon Food Forest, located in the Beacon Hill neighborhood, will provide an array of edible fruit-bearing plants including apple, pear, persimmon, chestnut and walnut trees; and edible berries such as blueberry, lingonberry and raspberry.

The project, which is already underway, is set to take several years to fully develop the seven acre plot just 2.5 miles from downtown Seattle.

Read more at:

http://www.organicauthority.com/blog/organic/seattle-building-massive-edible-forest-filled-with-free-food/?ref=nf

Iklan

2 Tanggapan

  1. Kapan di Indonesia bisa demikian,khususnya Jakarta?????

  2. Jakarta banyak sebenarnya, cuma sepetak-sepetak doang…. serba nanggung ngerjainnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: