Iklan

Keterlibatan AS di Pilpres Pemilihan Presiden Indonesia 2014

Bung Karno dan Asing

Info seorang teman FB:

MH: 11 hours ago
tadi pagi 2 mobil berplat CD 12 merapat dikantor team sukses jokowi, semua penumpang nya turun dan masuk kedalam, ada pembicaraan yg ckp lama, dicurigai adanya keterlibatan pihak AMERIKA ( CIA ) ikut bermain dlm proses pemilu RI 1 di INDONESIA

Kalau CIA main, apalagi sampai 2 mobil. Tentu ini bukan main2. Ingat demo jutaan orang di tahun 1966 dan 1998 ditengarai ada keterlibatan CIA.

Berikut adalah daftar nomor polisi untuk Corps Diplomatic di Indonesia:

* CD 12: Amerika Serikat http://teknologi.inilah.com/read/detail/84086/tanda-tanda-plat-nomor-kedutaan-asing

Andai info itu bohong, apakah benar AS tak terlibat dalam Pilpres Indonesia? Jika ada 1 informasi yg tak benar, tapi jika ada 4 atau lebih informasi lain yg lebih kuat menyatakan AS terlibat dalam Pilpres, harusnya kita percaya kan? Ibaratnya ada 1 hadits dhoif. Tapi jika ada banyak hadits2 bahkan Al Qur’an yg lebih kuat menyatakan kebenaran yang sama, maka itulah yang benar.

Stan Greenberg Jokowi

Apakah anda tak percaya AS tak terlibat di Pilpres ini?

New York Times Sebut AS Keberatan Jika Prabowo Jadi Presiden

http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/03/28/new-york-times-sebut-as-keberatan-jika-prabowo-jadi-presiden

Prabowo Emoh Minta Visa ke Amerika

TEMPO.CO, Washington DC – Calon presiden dari Partai Gerakan Indonesia Raya, Prabowo Subianto, ternyata masih ditolak masuk ke Amerika Serikat. Soal ini dipastikan adiknya yang juga pengurus Gerindra, Hashim Djojohadikusumo.
http://www.tempo.co/read/news/2012/10/13/078435414/Prabowo-Emoh-Minta-Visa-ke-Amerika

Jokowi Dubes AS

http://infozaman.blogspot.com/2014/06/jokowi-vs-prabowo-siapakah-antek-as.html

Pertemuan Tertutup Jokowi-Mega dengan Dubes AS

Liputan6.com, Jakarta- Bakal capres PDIP Joko Widodo (Jokowi) dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri melakukan pertemuan tertutup dengan sejumlah duta besar (dubes) di kediaman Presiden Direktur PT Gesit Sarana Perkasa, Jacob Soetoyo, Permata Hijau, Jakarta Selatan malam ini. Salah satunya Duta Besar Amerika Serikat (AS) Robert O Blake Jr.
http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2037088/pertemuan-tertutup-jokowi-mega-dengan-dubes-as

Jokowi Bertemu Dubes AS Baru, Bahas Cawapres?

http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/04/14/jokowi-bertemu-dubes-as-baru-bahas-cawapres

Apakah AS tak terlibat? Dubes AS adalah wakil resmi pemerintah AS di Indonesia. Cermin kebijakan Washington:

Tantowi kritik Dubes Amerika yang minta pengusutan kasus HAM 98

Merdeka.com – Duta Besar Amerika Serikat (AS) Robert Blake meminta pemerintah Indonesia untuk mengusut tuntas, kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi tahun 1998 lalu, saat calon presiden (capres) Prabowo Subianto menjabat sebagai Danjen Kopassus.
Terkait hal ini, Ketua Komisi I DPR RI, Tantowi Yahya menyesalkan turut campurnya Dubes AS tersebut.
“Sangat menyesalkan statement dari seorang Duta Besar yang isinya itu tidak lain dan tidak bukan adalah ikut campur di urusan dalam negeri orang lain, terlebih statement tersebut disampaikan oleh seorang diplomat Amerika,” kata Tantowi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (25/6).
Tantowi menilai, terjadi pelanggaran etika lantaran kasus tahun 1998 dinilai murni sebagai kasus dalam negeri Indonesia. Apabila harus diselesaikan, maka penyelesaian harus melalui cara dan sistem yang berlaku di Indonesia.
http://www.merdeka.com/politik/tantowi-kritik-dubes-amerika-yang-minta-pengusutan-kasus-ham-98.html

Lihat bagaimana Konsultan Politik presiden AS Bill Clinton seperti Stan Greenberg turut campur di Pilpres ini:

Stan Greenberg, Konsultan Politik Bill Clinton Teliti Elektabilitas Jokowi 61 Persen

http://www.suarapembaruan.com/home/stan-greenberg-konsultan-politik-bill-clinton-teliti-elektabilitas-jokowi-61-persen/42639

Ini berita lainnya:

Dubes AS Pertanyakan Rekam Jejak Prabowo

http://indo.wsj.com/posts/2014/06/23/dubes-as-pertanyakan-rekam-jejak-prabowo/

Ini videonya. Ngapain Dubes AS ikut campur masalah Indonesia?

Ya. Dan dari sejarah yg saya baca, itu mungkin terjadi. Tahun 1965 dilaporkan CIA memberi 5000 nama anggota PKI ke TNI Indonesia. Hebatkan? Mata2 mereka lebih tahu daripada intelijen kita. Sumbernya bukan media abal2:

 

The New York Times: C.I.A. Tie Asserted in Indonesia Purge

By MICHAEL WINES, Special to The New York Times

Published: July 12, 1990
A dispute has developed over a report that 25 years ago, United States officials supplied up to 5,000 names of Indonesian Communists to the Indonesian Army, which was then engaged in a campaign to wipe out the Communist Party in that country.

The House Intelligence Committee plans to investigate the report, which said that State Department and Central Intelligence Agency officials who served in Jakarta ”described in lengthy interviews how they aided Indonesian Army leader Suharto” in his attack on the Indonesian Communist Party.

Gen. Suharto, now Indonesia’s President, took control of the Government in October 1965, days after Communist insurgents launched an unsuccessful coup and killed six senior military officials. His army later encouraged and joined in a nationwide massacre of known and suspected Communists, which the C.I.A. has said claimed 250,000 lives before it ended in early 1966.

The article, distributed by the Washington-based States News Service on May 17, first appeared in The Spartanburg (S.C.) Herald-Journal on May 19, and has been published by other papers, including The Washington Post, in somewhat abridged form. http://www.nytimes.com/1990/07/12/world/cia-tie-asserted-in-indonesia-purge.html

 

Inggris juga terlibat. Makanya Bung Karno menyebut mereka Neo Kolonial. Penjajah gaya baru:

Our bloody coup in Indonesia

Britain colluded in one of the worst massacres of the century

Isabel Hilton
The Guardian, Wednesday 1 August 2001 02.49 BST
As Megawati Sukarnoputri struggles to hang on to control of Indonesia in the latest round of political upheaval, news has been published of how the British government covered up one of the worst massacres of the 20th century. The slaughter in 1965 – of up to a million alleged communist sympathisers – was carried out by General Suharto, who ousted Megawati’s father, President Sukarno, to become Indonesia’s military dictator. What is still less well known is that the British and American governments did not just cover up the massacre: they had a direct hand in bringing it about.
In the era of decolonisation and the cold war, ex-colonial powers were intent on preserving their economic interests in former colonies while setting up nominally independent governments. But the natives, inconveniently, did not always see their interests as consonant with those of their former colonial masters. Patrice Lumumba in the former Belgian Congo, Su-karno in Indonesia – both argued for economic as well as political self-determination.

Lumumba was assassinated with the connivance of Belgium, the US and the United Nations. In Indonesia, the British and American governments succeeded not only in engineering the result they wanted (the replacement of Sukarno with General Suharto), but in selling a false version of events that persists to this day.

Roland Challis, a former BBC south Asia correspondent, has described how British diplomats planted misleading stories in British newspapers at the time. But there is also evidence that the British and US responsibility for the fall of Sukarno goes back to the event that triggered it – an alleged left-wing coup attempt in 1965. The British were keen to get rid of Sukarno because he was pursuing a policy of confrontation with Malaysia. The US was convinced that Sukarno would drift towards communism – a far bigger potential headache for US interests than Vietnam.

Sukarno was hugely popular and an assassination would have unpredictable consequences: at worst, it might benefit the Indonesian Communist party, the PKI. The army was divided on the merits of a move against him. There was one man, though, who was willing to help – the commander of the strategic reserve, General Suharto. The challenge was to engineer Sukarno’s downfall and, simultaneously, the elimination of the PKI.

It has been known for more than 10 years that the CIA supplied lists of names for Suharto’s assassination squads.

http://www.theguardian.com/world/2001/aug/01/indonesia.comment

 

Dukungan Besar CIA Pada Pemberontakan PRRI/PERMESTA
Dalam operasi mendukung PRRI/PERMESTA, AS menurunkan kekuatan yang tidak main-main. CIA menjadikan Singapura, Filipina (Pangkalan AS Subic & Clark), Taiwan, dan Korea Selatan sebagai pos suplai dan pelatihan bagi pemberontak. Dari Singapura, pejabat Konsulat AS yang berkedudukan di Medan, dengan intensif berkoordinasi dengan Kol. Simbolon, Sumitro, dan Letkol Ventje Soemoeal.
Malam hari, 7 Desember 1957, Panglima Operasi AL-AS Laksamana Arleigh Burke memerintahkan Panglima Armada ke-7 (Pacific) Laksamana Felix Stump menggerakkan kekuatan AL-AS yang berbasis di Teluk Subic untuk merapat ke
Indonesia dengan kecepatan penuh tanpa boleh berhenti di mana pun.
Satu divisi pasukan elit AS, US-Marine, di bawah pengawalan sejumlah kapal penjelajah dan kapal perusak disertakan dalam misi tersebut. Dalih AS, pasukan itu untuk mengamankan instalasi perusahaan minyak AS, Caltex, di Pekanbaru, Riau.
Selain memberikan ribuan pucuk senjata api dan mesin, lengkap dengan amunisi dan aneka granat kepada para pemberontak, CIA juga mendrop sejumlah alat perang berat seperti meriam artileri, truk-truk pengangkut pasukan, aneka jeep, pesawat tempur dan pembom, dan sebagainya. Bahkan sejumlah pesawat tempur AU-Filipina dan AU-Taiwan seperti pesawat F-51D Mustang, pengebom B-26 Invader, AT-11 Kansan, pesawat transport Beechcraft, pesawat amfibi PBY 5 Catalina dipinjamkan CIA kepada pemberontak.
Sebab itulah, pemberontak bisa memiliki angkatan udaranya sendiri yang dinamakan AUREV (AU Revolusioner). Beberapa pilot pesawat tempur tersebut bahkan dikendalikan sendiri oleh personil militer AS, Korea Selatan, Taiwan, dan juga Filipina.
Agen CIA Tertangkap Basah
Seperti biasanya, awalnya pemerintah AS membantah keterlibatannya dalam pemberontakan PRRI/PERMESTA. Namun sungguh ironis, tidak sampai tiga pekan setelah Presiden Eisenhower menyatakan hal itu, pada 18 Mei 1958, sebuah pesawat pengebom B-29 milik AS ditembak jatuh oleh sistem penangkis
serangan udara Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), Pilot tempur pesawat tersebut, Allan Lawrence Pope, agen CIA yang sengaja ditugaskan membantu pemberontakan guna menggulingkan Bung Karno.berhasil ditangkap hidup-hidup.
Ancaman AS dibalas Dengan Ancaman Balik Oleh Bung Karno
Atas gertakan AS yang sampai mengerahkan kekuatan dua batayon US Marine dengan Armada ke-7 nya ke perairan Riau, Bung Karno sama sekali tidak gentar dan balik mengancam AS agar jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam masalah internal NKRI. “AS jangan bermain api dengan Indonesia. Jangan sampai kekurangpahaman Amerika menyebabkan meletusnya Perang Dunia Ketiga!”

Dan tahukah anda strategi CIA dalam menggulingkan Soekarno kembali dipakai untuk membantu junta militer Chili mengudeta Presiden Salvador Allende yang Sosialis, dan menaikkan Wakil Panglima Bersenjata Chili Augusto Pinochet Agurte dengan nama sandi : OPERASI JAKARTA (operasi bentukan Presiden AS Richard Nixon).
Jika kenyataan sejarah telah mengungkap borok Amerika dan jaringan PRO BARAT nya. Tidak menutup kemungkinan jika kejadian serupa akan terulang dengan modus yang sama :
Ada pangkalan militer dimana terdapat manusia2 Pro Barat yang direkrut dan digodok,
Ada pertemuan rahasia di Basis Israel di Asia Tenggara,
Ada antek Pro Barat yang dipelihara.
http://forum.viva.co.id/sejarah/490719-peran-cia-dalam-pemberontakan-di-indonesia.html

 

Is neoliberalism anti democracy?

Looking back at history, this is not a new incident. Hugo Chavez of Venezuela had to deal with two coups supported by the United States (although, of course, the superpower denied its involvement) in 2002 and 2004.

A more blatant example can be found in the infamous coup against President Salvador Allende of Chile in 1973 that was backed by a foreign intelligence operation coded Operation Jakarta following a similar operation that happened earlier against President Sukarno in the 1960s.
http://www.thejakartapost.com/news/2006/07/08/neoliberalism-anti-democracy.html

 

Kisah Operasi Jakarta di Cile yang mirip G 30 S

Delapan tahun setelah peristiwa G30S, tepatnya 11 September 1973 di Santiago, Cile, terjadi insiden yang berakibat tergulingnya pemerintahan Presiden Salvador Allende. Sang presiden yang dipilih secara demokratis, digulingkan oleh kudeta tentara pimpinan Agusto Pinochet dalam kudeta berdarah. Kudeta ini didukung CIA dengan nama sandi “Jakarta Operation.”

Nama sandi Operasi Jakarta karena kudeta itu mirip dengan kejatuhan Soekarno dan naiknya Soeharto. Beberapa pola yang mirip antara lain adalah beredarnya dokumen tentang perencanaan pembunuhan para jenderal dan komandan militer. Di Indonesia disebut dengan isu Dewan Jenderal. Kemiripan lain, beredar selebaran dan surat di kalangan militer dengan sandi Djakarta Se Acerca (Djakarta sudah dekat), mengacu pada pembunuhan pimpinan tinggi militer.

http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-operasi-jakarta-di-cile-yang-mirip-g-30-s.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: