Iklan

Wakapolri: Tak Usah Munafik, Kalau Hanya dari Gaji Nggak Akan Cukup


Siapa suruh jadi polisi..??? Siapa suruh jadi polisi..??? (sambil nyanyi…)
Keluar saja dari polisi. Coba jadi tukang batu atau jual bakso.
Bukannya sudah punya rumah dan mobil mewah? Motor Harley Davidson?

Kalau bukan dari gaji, dari mana?
Hiduplah sederhana dan qana’ah. Jangan tamak/loba/serakah. Insya Allah cukup…
http://media-islam.or.id/2008/02/29/pandangan-islam-terhadap-harta-kaya-dan-kesederhanaan

Baca lebih lanjut

Iklan

5 Kepala Negara yang Berani Pecat Petinggi Polisi Koruptor


Ada berita menarik dari Detik.com yang berjudul: “5 Pemimpin Negara Ini Berani Pecat Petinggi Polisi Koruptor”. Di sini dijelaskan 5 Kepala Negara yang tegas dan berani memecat polisi mereka yang korup. Bukan cuma 10-20 polisi rendahan. Tapi sampai 30 ribu personel polisi (80-90% dari jumlah seluruh polisi)! Bahkan ada yang berani memecat Kepala Polisi negara mereka. Presiden Peru memaksa 30 dari 45 jenderal Polisi untuk Pensiun Dini. Termasuk Kepala Polisinya.

Ini semua demi memberantas korupsi dan menciptakan polisi yang jujur dan bersih.

1. Mikhail Saakashvili, Presiden Georgia

Mikheil Saakashvili, merupakan Presiden Georgia sejak tahun 2004 yang terpilih lagi pada 2008. Pada tahun pertamanya, tepatnya 2005, Mikhail memecat seluruh personel Polisi Lalu Lintas karena terindikasi terlibat korupsi. Mau tahu jumlahnya? 30 ribu personel!

“Pada dasarnya, kami memiliki kekuatan polisi paling korup di dunia,” kata Mikhail seperti dikutip dari situs radio berita NPR pada 15 September 2005 lalu.

Tak hanya main tebas, pada awalnya Mikhail menaikkan gaji polisi, namun tidak memberi fasilitas seperti seragam, mobil dan bahan bakarnya, mendorong polisi agar jujur, bila menerima suap harus memberikan sebagian hasil korupsinya itu pada negara.

Baca lebih lanjut

Koboy Palmerah: Anggota TNI Aniaya Pengendara Sepeda Motor!


Jakarta adalah kota yang sangat macet. Jalan sejauh 1 km saja bisa ditempuh sampai 1 jam lebih. Jadi masalah senggolan/serempetan itu biasa.

Yang tidak lucu adalah jika karena masalah serempetan itu tidak diselesaikan secara damai atau melalui jalur hukum. Tapi dengan menganiaya pengendara lain seperti oknum TNI, Kapten M. Arlutfi, Kepala Urusan Personalia di Markas Besar TNI AD, yang berulangkali memukuli pengendara sepeda motor sementara tangan lainnya memegang pistol siap menembak jika korban melawan.

Baca lebih lanjut

Mafia Tambang Di Kalsel Membunuh dan Menggusur Tanah Rakyat?


Lili Dewi dari Banjarmasin bersedih karena selama 7 tahun, kasus pembunuhan terhadap suaminya belum diselesaikan aparat secara adil. Pembunuhnya hanya dihukum 4 bulan. Sementara orang yang menyuruh si pembunuh justru bebas tidak terhukum.
Kepada siapa dia harus mengadu?
Inilah berbagai kumpulan beritanya. Meski sudah dimuat di berbagai media massa, namun kasus ini belum tuntas jua.
Tempo, 23 MEI 2011

Mengejar Dalang dengan Testimoni

Mata Lilik Dwi Purwaningsih berkaca-kaca. Kamis pekan lalu itu, perempuan 50 tahun ini baru berobat di Rumah Sakit Ulin, Banjarmasin. Hari itu Lilik, yang sehari-harinya tinggal di Tanah Bumbu, sekitar 300 kilometer dari Banjarmasin, datang ke Ulin untuk memeriksakan penyakit radang empedu yang sudah dua tahun terakhir diidapnya.

Baca lebih lanjut

Gayus Tambunan Harusnya Dipenjara. Tapi Bisa ke Bali dan ke Singapura!


Gayus Tambunan terdakwa mafia pajak harusnya mendekam di penjara. Namun dia bebas melenggang bukan cuma keluar penjara, tapi jalan-jalan ke Bali menonton tenis dan juga ke Singapura.

Padahal untuk itu dia bukan cuma harus melewati petugas penjara, tapi juga pemeriksaan di airport bahkan mengurus paspor di imigrasi.

Gayus diberitakan memiliki simpanan Rp 100 milyar lebih meski cuma golongan 3A di Dirjen Pajak dan baru berumur 32 tahun saat ditangkap.

Baca lebih lanjut

Orang Sedang Shalat Ditembak Mati Densus 88?


Berikut berbagai berita dari Media seperti Jawa Pos, Harian Sumut Pos, VHR Media, dan Radar Tarakan Online.
Menurut berita di bawah Orang yang sedang shalat, ditembak mati oleh Densus 88. Sementara Kordinator Indonesian Police Watch, Neta S Pane mengaku menerima keluhan sejumlah kapolda. “Sikap Densus yang dianggap arogan, sombong, sok tahu, meremehkan TNI AU, sesama polisi. Ini menimbulkan keresahan sejumlah kapolda, yang mengeluhkan arogansi Densus,” paparnya.

Densus 88 dikabarkan menembak mati seorang ayah di depan anaknya, memisahkan seorang ibu dari bayinya yang berumur 8 bulan. Jika itu benar, Densus 88 itu manusia apa bukan?

Jika Densus 88 melanggar Asas Hukum Praduga Tak Bersalah, Melanggar HAM, dan Melanggar Prosedur (seperti di Lanud Polonia) sehingga diprotes TNI AU, untuk apa dipertahankan.

“Biadab, Saat Orang Shalat Dihabisi”

MEDAN — Tindakan yang dilakukan Densus 88 terhadap Khairul Ghozali bersama 4 orang jemaahnya saat shalat maghrib di Jalan Besar Medan-Tanjung Balai Asahan, dinilai sebagai tindakan yang biadab tidak berperikemanusiaan.

Pernyataan tersebut ditegaskan Adil Akhyar Al Medani, didampingi putri kandung ustadz Ghozali, Rabbaniyah (17) kepada Sumut Pos (grup JPNN) Jumat (24/9) di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Jalan Hindu Medan.

Baca lebih lanjut

Tembak Mati “Teroris”. Betulkah Teroris yang Ditembak?


Masalahnya adalah jujurkah polisi?
Benarkah yang ditembak mati adalah orang yang bersalah?
Apakah kasus itu tidak direkayasa?

Kasus Bibit Chandra di mana polisi dan jaksa merasa yakin buktinya kuat, namun tim 9 yang terdiri dari pakar hukum dan juga Mahkamah Konstitusi menemukan fakta bahwa penahanan Bibit Chandra direkayasa.

Saksi kunci Ari Muladi pun mengaku disuruh supaya bersaksi bahwa dia telah bertemu dan menyuap Bibit dan Chandra yang ternyata tidak benar.Begitu pula kasus Antasari hingga hakim pun memutuskan bersalah padahal saksi kunci seperti mantan Kapolres Jaksel, Wiliardi Wizar mengaku bahwa dia disuruh membuat BAP agar Antasari dijebloskan ke penjara dengan menyatakan Antasari yang memerintahkan pembunuhan. Ternyata tidak benar.

Baca lebih lanjut

Jaksa Agung Hendarman Supandji Minta Rp 10 Trilyun untuk Bersihkan “Markus” (Makelar Kasus)


Jaksa Agung Hendarman Supandji pada rapat DPR mengakui adanya “MARKUS” (Makelar Kasus) atau Mafia Peradilan yang tak jarang “menyulap” yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar.

Jaksa Agung mengakui ada “baunya”, tapi sulit membersihkannya. Untuk memberantas “Markus”, Jaksa Agung minta uang Rp 10 trilyun agar gaji para jaksa yang semula hanya Rp 3 juta bisa dinaikkan jadi Rp 12 juta. Dengan anggaran Rp 2 trilyun, sulit memberantas “Markus”, begitu kata Supandji.

Baca lebih lanjut

Aparat Hukum Berusaha Memenjarakan Konsumen yang Mengeluh?


PRITASaya lihat di Anteve tadi pagi (15 Oktober 2009), Roy Suryo menyatakan bahwa Prita yang mengirim email keluhan ke milis itu salah. Roy menyatakan itu sebagai saksi Ahli di Bidang TI.

Kalau saya pribadi melihat bahwa koonsumen komplain ke milis atau pun surat pembaca ke media massa seperti Koran atau majalah itu adalah hal yang wajar. Bahkan untuk media seperti Koran atau Majalah itu dari dulu sudah lama biasa terjadi.

Baca lebih lanjut

Transkrip Rekaman Anggodo, Jaksa, dan Pengacara


Di bawah adalah transkrip rekaman Anggodo dengan Jaksa, Pengacara, dan juga seorang Wanita (yang ternyata suka “memijat” di hotel-hotel) dari media massa seperti Kompas dan Vivanews.com.

Di situ disebut bagaimana seorang pejabat tinggi Kejaksaan minta “dipijat” dan juga pencatutan nama RI-1 untuk menangkap pimpinan KPK.

Besar harapan kita berita di media massa ini tidak benar. Jika pun benar, semoga revolusi hukum (sebab reformasi tidak akan berhasil) dapat menyingkirkan Markus (Makelar Kasus) dan juga Mafia Peradilan yang sering membuat yang salah jadi benar dan benar jadi salah.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: